
KLIKSULSEL_Di atas kain bermotif yang mulai pudar, sebuah radio tua berdiri dalam diam. Antenanya masih tegak, seolah enggan menyerah pada waktu.
Tombol-tombolnya kusam, penuh noda usia, namun menyimpan cerita dari masa ketika dunia bergantung pada suara yang dipancarkannya.
Dulu, benda seperti ini bukan sekadar alat. Ia adalah jendela dunia.
Ketika Suara Menjadi SegalanyaPada masa sebelum layar mendominasi kehidupan, radio adalah pusat dari segala informasi.
Di ruang-ruang keluarga sederhana, orang-orang berkumpul, menanti siaran berita petang atau alunan musik dari frekuensi jauh. Tidak ada notifikasi instan, tidak ada linimasa digital—hanya suara, dan kepercayaan.
Di Kecamatan Rilau Ale, seorang warga bernama Syamsuddin masih menyimpan radio jadul miliknya dengan penuh perawatan. Bagi dirinya, radio itu bukan sekadar barang lama, melainkan bagian penting dari perjalanan hidupnya.Menurutnya, radio menjadi sumber informasi utama di masa mudanya. Setiap pagi dan malam, ia setia memutar tombol frekuensi, mencari siaran yang jernih untuk mengikuti perkembangan berita nasional.“Dulu, hampir setiap hari saya dengar radio ini. Dari sini saya tahu kejadian di berbagai daerah di Indonesia. Berita dari Jakarta, Jawa, sampai daerah lain bisa saya dengar walaupun saya tidak pernah ke sana,” ujar Syamsuddin sambil menunjuk radio kesayangannya, saat ditemui, Minggu (03/05).
Era Berganti, Peran Menyusut“Kalau tidak ada radio, kita seperti ketinggalan dunia. Radio ini yang kasih tahu kami apa yang terjadi di luar sana,” tambahnya.
Namun waktu bergerak tanpa kompromi. Teknologi berkembang, membawa internet, televisi, dan perangkat pintar yang mengubah cara manusia mengonsumsi informasi.
Kecepatan menjadi segalanya. Visual mengambil alih peran audio. Dunia kini berada dalam genggaman layar.
Radio perlahan kehilangan panggung utamanya.
Perangkat seperti milik Syamsuddin kini jarang digunakan. Ia tersisih ke sudut ruangan, beralih fungsi menjadi benda kenangan. Generasi baru mungkin tak lagi akrab dengan suara “kresek” saat mencari frekuensi, atau sensasi menemukan siaran favorit secara tidak sengaja.Meski begitu, Syamsuddin tetap menyimpannya dengan baik. Baginya, radio itu adalah pengingat akan masa ketika informasi terasa lebih berharga.
Yang Tersisa: Nilai dan Kenangan“Sekarang semua serba cepat, tapi rasanya beda. Dulu kita benar-benar menunggu, mendengar dengan serius. Ada rasa tersendiri,” katanya.
Meski perannya telah berubah, radio tidak benar-benar hilang. Di beberapa wilayah terpencil, ia masih menjadi penyelamat informasi. Dalam situasi darurat ketika jaringan digital lumpuh, radio kembali menunjukkan relevansinya.
Lebih dari itu, radio klasik kini menjadi simbol. Ia mengingatkan pada masa ketika informasi tidak datang dalam banjir data, tetapi dalam aliran yang sederhana dan bermakna.
Radio tua itu mungkin tak lagi bersuara lantang. Namun dalam diamnya, ia tetap berbicara—melalui kenangan Syamsuddin, dan jutaan orang lainnya—tentang zaman ketika dunia didengar, bukan dilihat.



