
KLIKSULSEL_Manggarai Timur, NTT – Warga Kecamatan Borong kembali dikejutkan oleh peristiwa tragis yang menimpa seorang pemuda setempat. Fatrian Jehadus alias Rian (28), warga Rua, Desa Ngampang Mas, ditemukan meninggal dunia di sebuah pondok kebun pada Rabu (22/4/2026).
Kejadian ini menambah daftar panjang kasus serupa yang terjadi dalam dua bulan terakhir.
Peristiwa ini bukan hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar tentang kondisi sosial dan kesehatan mental di wilayah tersebut.
Obrolan Pagi yang Berujung DukaKejadian bermula dari aktivitas pagi yang tampak biasa. Sekitar pukul 07.00 WITA,
Rian masih sempat duduk bersama orang tuanya sambil menikmati kopi. Saat diminta membantu memanen padi, ia hanya menjawab singkat, “Kamu duluan saja.”
Ayah korban, Laurens Pamput (65), kemudian berangkat lebih dulu ke kebun. Namun, saat kembali menjelang siang, ia mendapati kondisi pondok yang mencurigakan.
Gembok yang sebelumnya terkunci sudah terbuka, sementara pintu terkunci dari dalam.Curiga, Laurens mengintip melalui celah pintu. Ia pun mendapati pemandangan memilukan: anaknya tergantung dengan seutas tali nilon berwarna hijau yang melilit lehernya.
Korban sempat diturunkan dan diberikan pertolongan, namun nyawanya tidak dapat diselamatkan.
Hasil Pemeriksaan Polisi dan Medis
Petugas dari Unit Identifikasi Satreskrim Polres Manggarai Timur tiba di lokasi sekitar pukul 18.00 WITA. Meski jenazah telah dipindahkan ke rumah duka, olah tempat kejadian perkara (TKP) tetap dilakukan.
Berdasarkan hasil visum et repertum oleh tim medis, ditemukan sejumlah fakta:Luka jerat melingkar di leher sepanjang 33 cm dengan lebar 2 cm
Tubuh korban dalam kondisi kaku (rigor mortis)
Penyebab kematian akibat terhambatnya saluran pernapasan
Korban diketahui mengenakan kemeja kotak-kotak merah hitam dan celana jeans abu-abu, dengan tinggi badan sekitar 168 cm.
Keluarga Terima dengan IkhlasDalam suasana duka, pihak keluarga memilih menerima kejadian tersebut sebagai takdir. Melalui pernyataan resmi, keluarga menyampaikan:
Menerima kematian korban dengan ikhlas
Menolak dilakukan autopsi
Tidak menuntut pihak manapun
Memilih proses pemakaman secara kekeluargaan
Tiga Kasus dalam Dua Bulan, Ada Apa?
Kasus yang menimpa Rian merupakan insiden ketiga dalam dua bulan terakhir di wilayah yang sama. Kondisi ini memicu kekhawatiran masyarakat.
Hingga kini, belum ada penjelasan pasti mengenai motif dari kasus-kasus tersebut. Apakah dipicu oleh tekanan ekonomi, persoalan pribadi, atau gangguan kesehatan mental, masih belum terungkap secara jelas.
Minimnya langkah konkret dari pemerintah daerah dalam upaya pencegahan juga menjadi sorotan.
Tidak adanya program khusus atau intervensi sosial membuat kasus serupa berpotensi terus berulang.
Alarm Bahaya bagi MasyarakatPeristiwa ini menjadi pengingat bahwa persoalan kesehatan mental masih menjadi isu serius yang kerap terabaikan. Di balik kehidupan sehari-hari yang terlihat normal, tidak sedikit individu yang memendam tekanan tanpa dukungan yang memadai.
Kesunyian dan beban batin yang tidak tersampaikan bisa menjadi ancaman nyata jika tidak ditangani secara serius.
Perlu Peran Bersama
Tragedi ini seharusnya menjadi titik refleksi bagi semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Upaya pencegahan, edukasi kesehatan mental, serta dukungan sosial perlu diperkuat.
Masyarakat juga diimbau untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, khususnya terhadap individu yang menunjukkan tanda-tanda mengalami tekanan mental.Karena pada akhirnya, mencegah kehilangan nyawa bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan tugas bersama.




