
BULUKUMBA, Kliksulsel — Setiap kali awan gelap menggantung di langit Desa Bijawang, Kecamatan Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba, kekhawatiran warga kembali muncul. Bukan semata karena hujan yang akan turun, melainkan karena kondisi Jalan Poros Seppang yang semakin sulit dilalui saat air mulai menggenangi permukaannya.
Di ruas jalan yang menjadi urat nadi aktivitas masyarakat itu, lubang-lubang besar tersebar di berbagai titik. Ketika hujan datang, lubang tersebut berubah menjadi kubangan yang sulit dibedakan dengan permukaan jalan. Bagi pengendara, terutama sepeda motor, situasi itu menjadi ancaman yang harus dihadapi setiap hari.
Pemandangan kendaraan yang melambat, pengendara yang berusaha menghindari lubang, hingga percikan air dari genangan sudah menjadi hal biasa di Jalan Poros Seppang.“Paling berbahaya saat hujan. Lubangnya tidak kelihatan karena tertutup air. Kami harus ekstra hati-hati kalau melintas,” tutur seorang warga yang saban hari menggunakan jalan tersebut untuk bekerja.
Namun bagi warga, kondisi itu bukan lagi sekadar ketidaknyamanan. Mereka menilai kerusakan jalan yang berlangsung bertahun-tahun telah berubah menjadi persoalan keselamatan.
Jalan yang Menopang Kehidupan Warga
Jalan Poros Seppang bukan sekadar hamparan aspal yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya. Bagi masyarakat Desa Bijawang, jalan tersebut merupakan jalur vital yang menopang berbagai aktivitas kehidupan.
Setiap pagi, para pelajar melintasinya untuk menuju sekolah. Petani menggunakan jalur itu untuk mengangkut hasil kebun dan sawah. Pedagang memanfaatkannya untuk mendistribusikan barang dagangan. Bahkan akses menuju berbagai layanan publik juga bergantung pada kondisi jalan tersebut.
Karena itu, ketika jalan mengalami kerusakan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pengendara. Aktivitas ekonomi masyarakat ikut terganggu, waktu tempuh menjadi lebih lama, dan biaya transportasi meningkat.
“Kami melewati jalan ini setiap hari. Kalau rusak seperti sekarang, tentu semua aktivitas ikut terganggu,” ujar seorang pengguna jalan.
Kekecewaan yang Terus Menumpuk
Keluhan mengenai kondisi Jalan Poros Seppang sebenarnya bukan hal baru. Warga mengaku telah berulang kali menyampaikan aspirasi agar pemerintah segera melakukan perbaikan. Namun hingga kini, mereka belum melihat adanya penanganan permanen yang mampu mengatasi persoalan tersebut.
Saat musim hujan tiba, kerusakan bahkan semakin cepat meluas. Air dari saluran pengairan yang mengalir ke badan jalan disebut mempercepat pengikisan lapisan aspal sehingga lubang semakin membesar.Di tengah kondisi itu, sebagian warga mulai mempertanyakan arah prioritas pembangunan daerah.
“Kami tidak menolak pembangunan fasilitas lain. Tapi jalan adalah kebutuhan dasar masyarakat. Kalau akses utama rusak dan membahayakan, tentu ini harus menjadi prioritas,” kata seorang warga.
Nada kekecewaan serupa terdengar dari pengguna jalan lainnya. Mereka menilai pemerintah perlu hadir lebih dekat dengan persoalan yang dihadapi masyarakat di lapangan.
Menunggu Kehadiran Negara
Bagi warga Bijawang, harapan mereka sebenarnya sederhana. Mereka tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Yang mereka inginkan hanyalah jalan yang layak dan aman untuk dilalui.
Harapan itu kembali disuarakan ketika kondisi Jalan Poros Seppang semakin memprihatinkan dalam beberapa bulan terakhir. Warga mendesak Pemerintah Kabupaten Bulukumba dan instansi terkait untuk segera turun melakukan peninjauan serta menyusun langkah perbaikan permanen.Mereka khawatir jika kerusakan terus dibiarkan, risiko kecelakaan akan semakin besar.
“Jangan tunggu ada korban jiwa baru diperbaiki. Pemerintah harus melihat langsung apa yang kami rasakan setiap hari,” ujar seorang pengguna jalan dengan nada kecewa.
Hingga kini, Jalan Poros Seppang masih dipenuhi lubang dan genangan air di sejumlah titik. Di tengah lalu-lalang kendaraan yang terus melintas, warga Desa Bijawang hanya bisa berharap keluhan yang selama ini mereka suarakan tidak berhenti sebagai catatan, melainkan berujung pada tindakan nyata.
Sebab bagi mereka, jalan yang layak bukan sekadar infrastruktur. Jalan adalah penghubung kehidupan, penggerak ekonomi, sekaligus cermin hadir atau tidaknya perhatian pemerintah terhadap kebutuhan dasar masyarakat. (**)




