Kasus Gantung Diri Kembali Terjadi di Borong, Jadi Sorotan Minimnya Perhatian Kesehatan Mental

Avatar photo
Foto Ilustrasi warga Rua, Desa Ngampang Mas, ditemukan meninggal dunia di sebuah pondok kebun pada Rabu 22/4/2026. (Meta AI)

KLIKSULSEL_Manggarai Timur, NTT – Warga Kecamatan Borong kembali dikejutkan oleh peristiwa tragis yang menimpa seorang pemuda setempat. Fatrian Jehadus alias Rian (28), warga Rua, Desa Ngampang Mas, ditemukan meninggal dunia di sebuah pondok kebun pada Rabu (22/4/2026).

Kejadian ini menambah daftar panjang kasus serupa yang terjadi dalam dua bulan terakhir.

Peristiwa ini bukan hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar tentang kondisi sosial dan kesehatan mental di wilayah tersebut.

Baca Juga:  MAS (35) Ditemukan Meninggal di Manggarai, Polisi Selidiki Motif: Tragedi yang Menyisakan Tanda Tanya Besar
Obrolan Pagi yang Berujung Duka

Kejadian bermula dari aktivitas pagi yang tampak biasa. Sekitar pukul 07.00 WITA,

Rian masih sempat duduk bersama orang tuanya sambil menikmati kopi. Saat diminta membantu memanen padi, ia hanya menjawab singkat, “Kamu duluan saja.”

Ayah korban, Laurens Pamput (65), kemudian berangkat lebih dulu ke kebun. Namun, saat kembali menjelang siang, ia mendapati kondisi pondok yang mencurigakan.

Baca Juga:  Dana Hampir Rp1 Miliar, Air Bersih Belum Mengalir untuk 22 KK di Para Lando
Gembok yang sebelumnya terkunci sudah terbuka, sementara pintu terkunci dari dalam.

Curiga, Laurens mengintip melalui celah pintu. Ia pun mendapati pemandangan memilukan: anaknya tergantung dengan seutas tali nilon berwarna hijau yang melilit lehernya.

Korban sempat diturunkan dan diberikan pertolongan, namun nyawanya tidak dapat diselamatkan.

Hasil Pemeriksaan Polisi dan Medis

Petugas dari Unit Identifikasi Satreskrim Polres Manggarai Timur tiba di lokasi sekitar pukul 18.00 WITA. Meski jenazah telah dipindahkan ke rumah duka, olah tempat kejadian perkara (TKP) tetap dilakukan.

Baca Juga:  UM Bulukumba Raih Akreditasi Baik Sekali dari BAN-PT, Bukti Komitmen Peningkatan Mutu Berkelanjutan
Berdasarkan hasil visum et repertum oleh tim medis, ditemukan sejumlah fakta:

Luka jerat melingkar di leher sepanjang 33 cm dengan lebar 2 cm

Tubuh korban dalam kondisi kaku (rigor mortis)

Penyebab kematian akibat terhambatnya saluran pernapasan

Korban diketahui mengenakan kemeja kotak-kotak merah hitam dan celana jeans abu-abu, dengan tinggi badan sekitar 168 cm.

Baca Juga:  10 Miliar Rupiah Terbuang Percuma? Jalan Hotmix Goloworok-Wela Rusak Parah, Publik Pertanyakan Pengawasan Proyek
Keluarga Terima dengan Ikhlas

Dalam suasana duka, pihak keluarga memilih menerima kejadian tersebut sebagai takdir. Melalui pernyataan resmi, keluarga menyampaikan:
Menerima kematian korban dengan ikhlas

Menolak dilakukan autopsi

Tidak menuntut pihak manapun
Memilih proses pemakaman secara kekeluargaan

Baca Juga:  Pernyataan Kajari Soal Akan Adanya Penetapan Tersangka Kasus Pasar Sentral Disorot, LPBB dan KKRB Datangi Kejari Bulukumba
Sikap ini mencerminkan ketabahan keluarga, namun di sisi lain menyisakan ruang kosong dalam upaya mengungkap faktor penyebab di balik kejadian tersebut.

Tiga Kasus dalam Dua Bulan, Ada Apa?
Kasus yang menimpa Rian merupakan insiden ketiga dalam dua bulan terakhir di wilayah yang sama. Kondisi ini memicu kekhawatiran masyarakat.
Hingga kini, belum ada penjelasan pasti mengenai motif dari kasus-kasus tersebut. Apakah dipicu oleh tekanan ekonomi, persoalan pribadi, atau gangguan kesehatan mental, masih belum terungkap secara jelas.

Minimnya langkah konkret dari pemerintah daerah dalam upaya pencegahan juga menjadi sorotan.

Tidak adanya program khusus atau intervensi sosial membuat kasus serupa berpotensi terus berulang.

Baca Juga:  Dua Wisatawan Asal Spanyol Dievakuasi di Pulau Padar, Alami Gangguan Kesehatan di Tengah Laut
Alarm Bahaya bagi Masyarakat

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa persoalan kesehatan mental masih menjadi isu serius yang kerap terabaikan. Di balik kehidupan sehari-hari yang terlihat normal, tidak sedikit individu yang memendam tekanan tanpa dukungan yang memadai.

Kesunyian dan beban batin yang tidak tersampaikan bisa menjadi ancaman nyata jika tidak ditangani secara serius.
Perlu Peran Bersama

Tragedi ini seharusnya menjadi titik refleksi bagi semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Upaya pencegahan, edukasi kesehatan mental, serta dukungan sosial perlu diperkuat.

Baca Juga:  Aisyah Afiqah Siswi SMPN 1 Bulukumba Ukir Prestasi Nasional Lewat Sayembara Cipta Puisi Nasional 2026
Masyarakat juga diimbau untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, khususnya terhadap individu yang menunjukkan tanda-tanda mengalami tekanan mental.

Karena pada akhirnya, mencegah kehilangan nyawa bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan tugas bersama.

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *