10 Miliar Rupiah Terbuang Percuma? Jalan Hotmix Goloworok-Wela Rusak Parah, Publik Pertanyakan Pengawasan Proyek

Foto Ilustrasi Kondisi jalan hotmix ruas Goloworok hingga Wela, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai yang sudah rusak parah. (AI)*

KLIKsulsel_Manggarai – Proyek pengaspalan jalan hotmix ruas Goloworok hingga Wela, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, yang menelan anggaran sekitar Rp10 miliar dari Dana Alokasi Umum (DAU) 2025 kini menjadi sorotan publik. Pasalnya, jalan yang belum genap setahun selesai dikerjakan itu sudah mengalami kerusakan parah di sejumlah titik.

Kerusakan terlihat mulai dari lapisan aspal yang terkelupas, retakan memanjang, hingga lubang cukup dalam yang dinilai membahayakan pengguna jalan.

Kondisi tersebut memicu kekecewaan warga karena proyek yang digadang-gadang mampu meningkatkan akses dan mendukung aktivitas ekonomi masyarakat justru cepat rusak.

Baca Juga:  BBM Langka, Harga Eceran Tembus Rp13 Ribu per Botol di Batukaropa Bulukumba, Warga Mengeluh
Warga mempertanyakan kualitas pekerjaan proyek tersebut. Sebab, anggaran miliaran rupiah yang berasal dari uang negara seharusnya menghasilkan infrastruktur yang kuat dan bertahan lama.

“Bagaimana mungkin jalan yang baru selesai dikerjakan belum setahun sudah rusak berat?” keluh salah satu warga yang rutin melintas di jalur tersebut.

Kontraktor Janji Perbaikan

Dikutip dari pemberitaan media Obor Timur, pihak kontraktor disebut telah berjanji akan melakukan perbaikan pada pekan depan terhadap ruas jalan yang mengalami kerusakan dari Goloworok sampai Wela.

Meski demikian, janji tersebut belum mampu meredam keresahan masyarakat. Publik masih mempertanyakan penyebab utama kerusakan jalan dan bagaimana proses pengawasan proyek bisa meloloskan pekerjaan yang dinilai tidak bertahan lama.

PPK Belum Beri Penjelasan

Media Kliksuksel berupaya meminta klarifikasi kepada pihak yang bertanggung jawab dalam proyek tersebut.

Melalui komunikasi pesan singkat, seorang pejabat bernama Citra yang mengaku sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek tahun 2025 awalnya menerima konfirmasi dan mempersilakan pertanyaan diajukan.

Enam pertanyaan mendasar kemudian dikirimkan kepada PPK, di antaranya terkait penyebab kerusakan jalan, masa pemeliharaan proyek, mutu aspal yang digunakan, laporan konsultan pengawas, langkah penanganan keluhan warga, hingga evaluasi agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.

Berikut poin pertanyaan yang diajukan:

Apa penyebab utama kerusakan jalan padahal usianya belum genap satu tahun?

Apakah terdapat masa pemeliharaan dalam kontrak pekerjaan?

Apakah mutu aspal yang digunakan sudah sesuai standar?

Apakah PPK menerima laporan berkala dari konsultan pengawas?

Langkah apa yang sudah dilakukan setelah muncul keluhan masyarakat?

Evaluasi apa yang dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang?

Baca Juga:  Wahyudi Syafruddin, Representasi Pemuda Labuang Korong yang Diusung Masyarakat
Namun hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak PPK terkait pertanyaan tersebut.

Sikap diam tersebut justru memunculkan pertanyaan baru di tengah masyarakat. Publik menilai keterbukaan informasi sangat penting, terlebih proyek tersebut menggunakan anggaran negara dalam jumlah besar.

Baca Juga:  Jalan ke Pelabuhan Wae Kelambu: Infrastruktur yang Bukan Sekadar Beton, Menguatkan Nadi Ekonomi Labuan Bajo
Sorotan terhadap Pengawasan Proyek

PPK memiliki peran penting dalam keseluruhan proses proyek, mulai dari perencanaan, pengawasan mutu pekerjaan, hingga pertanggungjawaban penggunaan anggaran. Karena itu, kerusakan jalan dalam waktu singkat memunculkan dugaan adanya persoalan dalam pelaksanaan proyek.

Sejumlah pihak menilai kemungkinan penyebab kerusakan bisa berasal dari kualitas material yang tidak sesuai standar, metode pengerjaan yang kurang baik, hingga lemahnya pengawasan selama proses pelaksanaan.

Baca Juga:  Viral Ibu dan Anak Perbaiki Jalan Rusak, Kritik Keras untuk Pembangunan Manggarai
Pengamat menilai proyek infrastruktur seharusnya tidak hanya berorientasi pada penyerapan anggaran, tetapi juga kualitas hasil pekerjaan yang benar-benar dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.

Baca Juga:  Longsor Putus Akses Jalan di Manggarai Barat, Warga Keluhkan Minimnya Respons Pemerintah
Publik Minta Transparansi

Masyarakat berharap pemerintah dan pihak terkait segera memberikan penjelasan terbuka mengenai kondisi proyek jalan Goloworok-Wela. Transparansi dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap pengelolaan uang negara.

Selain itu, warga juga meminta agar kerusakan segera diperbaiki secara menyeluruh dan dilakukan audit terhadap kualitas pekerjaan proyek tersebut.

“Uang Rp10 miliar itu berasal dari rakyat. Jadi rakyat berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi,” ujar seorang warga.

Baca Juga:  Blokade Jalur Labuan Bajo–Ruteng: Konflik dari Lembor ke Golo Nawang Dipicu Salah Paham Lama
Kini publik menanti langkah konkret dari pihak terkait, bukan hanya janji perbaikan, tetapi juga penjelasan yang jujur dan terbuka mengenai penyebab kerusakan jalan yang baru seumur jagung itu.

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *