Menyusuri Jejak Radio Jadul dan Ingatan Kolektif: Dari Sumber Informasi ke Sekadar Nostalgia

Foto Radio Jadul milik Syamsuddin warga dari kecamatan Rilau Ale yang diedit menggunakan AI. (Red)*

KLIKSULSEL_Di atas kain bermotif yang mulai pudar, sebuah radio tua berdiri dalam diam. Antenanya masih tegak, seolah enggan menyerah pada waktu.

Tombol-tombolnya kusam, penuh noda usia, namun menyimpan cerita dari masa ketika dunia bergantung pada suara yang dipancarkannya.

Dulu, benda seperti ini bukan sekadar alat. Ia adalah jendela dunia.

Baca Juga:  Antara Pesta dan Pertanyaan: Diskusi Hangat di Manggarai Ungkap Batas Informasi di Era Digital
Ketika Suara Menjadi Segalanya
Pada masa sebelum layar mendominasi kehidupan, radio adalah pusat dari segala informasi.

Di ruang-ruang keluarga sederhana, orang-orang berkumpul, menanti siaran berita petang atau alunan musik dari frekuensi jauh. Tidak ada notifikasi instan, tidak ada linimasa digital—hanya suara, dan kepercayaan.

Baca Juga:  Siswa Kelas II SD Negeri 256 Kajang-Kajang Tumbuhkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini
Di Kecamatan Rilau Ale, seorang warga bernama Syamsuddin masih menyimpan radio jadul miliknya dengan penuh perawatan. Bagi dirinya, radio itu bukan sekadar barang lama, melainkan bagian penting dari perjalanan hidupnya.

“Dulu, hampir setiap hari saya dengar radio ini. Dari sini saya tahu kejadian di berbagai daerah di Indonesia. Berita dari Jakarta, Jawa, sampai daerah lain bisa saya dengar walaupun saya tidak pernah ke sana,” ujar Syamsuddin sambil menunjuk radio kesayangannya, saat ditemui, Minggu (03/05).

Baca Juga:  Dua Wisatawan Asal Spanyol Dievakuasi di Pulau Padar, Alami Gangguan Kesehatan di Tengah Laut
Menurutnya, radio menjadi sumber informasi utama di masa mudanya. Setiap pagi dan malam, ia setia memutar tombol frekuensi, mencari siaran yang jernih untuk mengikuti perkembangan berita nasional.

“Kalau tidak ada radio, kita seperti ketinggalan dunia. Radio ini yang kasih tahu kami apa yang terjadi di luar sana,” tambahnya.

Baca Juga:  Ramitkom di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bulukumba: Menyemai Mutu, Menuai Masa Depan Pendidikan
Era Berganti, Peran Menyusut

Namun waktu bergerak tanpa kompromi. Teknologi berkembang, membawa internet, televisi, dan perangkat pintar yang mengubah cara manusia mengonsumsi informasi.

Kecepatan menjadi segalanya. Visual mengambil alih peran audio. Dunia kini berada dalam genggaman layar.

Radio perlahan kehilangan panggung utamanya.

Baca Juga:  Vinsensius Jala Advokat NTT, Soroti Bahaya Main Hakim Sendiri di Era Media Sosial
Perangkat seperti milik Syamsuddin kini jarang digunakan. Ia tersisih ke sudut ruangan, beralih fungsi menjadi benda kenangan. Generasi baru mungkin tak lagi akrab dengan suara “kresek” saat mencari frekuensi, atau sensasi menemukan siaran favorit secara tidak sengaja.

Meski begitu, Syamsuddin tetap menyimpannya dengan baik. Baginya, radio itu adalah pengingat akan masa ketika informasi terasa lebih berharga.

“Sekarang semua serba cepat, tapi rasanya beda. Dulu kita benar-benar menunggu, mendengar dengan serius. Ada rasa tersendiri,” katanya.

Baca Juga:  Fraksi Demokrat DPRD Manggarai Dorong Investasi Berkeadilan dan Berbasis Kesejahteraan
Yang Tersisa: Nilai dan Kenangan

Meski perannya telah berubah, radio tidak benar-benar hilang. Di beberapa wilayah terpencil, ia masih menjadi penyelamat informasi. Dalam situasi darurat ketika jaringan digital lumpuh, radio kembali menunjukkan relevansinya.

Lebih dari itu, radio klasik kini menjadi simbol. Ia mengingatkan pada masa ketika informasi tidak datang dalam banjir data, tetapi dalam aliran yang sederhana dan bermakna.

Baca Juga:  Aisyah Afiqah Siswi SMPN 1 Bulukumba Ukir Prestasi Nasional Lewat Sayembara Cipta Puisi Nasional 2026
Radio tua itu mungkin tak lagi bersuara lantang. Namun dalam diamnya, ia tetap berbicara—melalui kenangan Syamsuddin, dan jutaan orang lainnya—tentang zaman ketika dunia didengar, bukan dilihat.

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *