KLIKSULSEL, Ruteng – Di bawah langit Flores yang teduh, Jumat (3/4/2026), hamparan Natas Labar berubah menjadi panggung sunyi yang penuh makna.
Ribuan umat Katolik berkumpul, bukan sekadar menyaksikan, tetapi ikut menghidupi Visualisasi Jalan Salib yang dibawakan Orang Muda Katolik (OMK) Paroki St. Vitalis Cewonikit, Keuskupan Ruteng.
Peristiwa ini bukan hanya pertunjukan religius. Ia menjelma menjadi ruang batin, tempat iman dan budaya Manggarai bertaut dalam satu napas panjang yang menggetarkan.Ribuan Umat Terhanyut, Air Mata Mengalir di Tengah Keheningan
Sejak sore, suasana khidmat sudah terasa. Ribuan umat mengenakan busana merah yang menyala, berpadu dengan kain songke khas Manggarai.
Langkah demi langkah prosesi Jalan Salib disaksikan dalam diam. Adegan demi adegan—mulai dari Yesus dijatuhi hukuman, memanggul salib, hingga wafat di kayu salib—mengalir seperti kisah yang tak hanya dilihat, tetapi dirasakan.
Tak sedikit umat yang menitikkan air mata. Di tengah sunyi, tangis menjadi bahasa yang paling jujur, mengungkapkan kedalaman iman yang tak terucap.
Karya OMK Cewonikit, Dari Kreativitas Menjadi Penghayatan
Tablo Jalan Salib ini digarap sepenuhnya oleh OMK Cewonikit. Dengan totalitas gerak, ekspresi, dan penghayatan, mereka menghadirkan kisah sengsara Yesus secara hidup dan menyentuh.
Bukan sekadar drama, melainkan sebuah permenungan visual yang membawa umat masuk lebih dalam ke dalam misteri iman.Para pemeran tampil tanpa jarak dengan kisah yang dibawakan. Setiap langkah terasa berat, setiap tatapan memuat luka, dan setiap adegan menghidupkan kembali peristiwa dua ribu tahun silam.
Dihadiri Uskup dan Pemerintah Daerah
Kegiatan ini diawali dengan pemberkatan lokasi yang dipimpin Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat. Turut hadir Bupati Manggarai bersama Ketua TP PKK yang ikut dalam prosesi dengan penuh kekhusyukan.
Momen Puncak: Umat Berlutut di Rumput Basah
Puncak emosional terjadi saat perhentian ke-12, ketika Yesus wafat di salib. Tanpa aba-aba, seluruh umat spontan berlutut di atas rumput yang masih basah oleh sisa hujan.
Dingin tanah tak dihiraukan. Dalam keheningan yang dalam, rumput basah berubah menjadi altar, dan lutut yang menyentuh bumi menjadi persembahan paling tulus.
Momen ini menjadi gambaran nyata: iman bukan hanya diucapkan, tetapi dihidupi dengan tubuh dan jiwa.
Inkulturasi Iman dalam Budaya Manggarai
“Iman tidak datang untuk menggantikan, melainkan menyempurnakan,” ujarnya.
Menurutnya, nilai-nilai budaya Manggarai seperti keberanian, kesetiaan, dan gotong royong sejalan dengan ajaran Injil. Karena itu, pendekatan inkulturasi menjadi cara efektif untuk mendekatkan pesan keselamatan kepada umat.
Tablo ini pun menjadi bukti bahwa pewartaan iman melalui budaya sendiri bukan hanya mungkin, tetapi juga indah dan mengakar.
Kreativitas Kaum Muda Jadi Harapan Gereja
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa kaum muda memiliki peran besar dalam kehidupan Gereja. Kreativitas OMK menjadi sarana evangelisasi yang relevan dan menyentuh generasi masa kini.
Dengan memadukan seni, iman, dan budaya lokal, pesan Injil tidak lagi terasa jauh, tetapi hadir dekat—dalam bahasa, simbol, dan kehidupan sehari-hari.Di Natas Labar, sebuah pesan sederhana namun dalam kembali ditegaskan: kasih Tuhan tidak pernah asing. Ia hidup dan bertumbuh di tengah budaya, di tanah sendiri, dan di hati umat yang percaya.




