KLIKSULSEL, RUTENG, 16 April 2026 – Di balik hamparan hijau pegunungan yang membentang di Kabupaten Manggarai, tersimpan potensi alam yang tak ternilai: kopi. Komoditas yang bukan sekadar tanaman, melainkan bagian dari denyut nadi ekonomi dan identitas masyarakat ini, kini kembali menjadi fokus utama pembangunan daerah.
Pada Kamis (16/4), di Aula Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida), ruang rapat menjadi saksi komitmen kuat para pemangku kepentingan.
Di bawah pimpinan Penjabat Sekretaris Daerah, Lambertus Paput, didampingi Kepala Bapperida Livinus Vitalis Liven Turuk dan Kepala Dinas Pertanian Ferdy Ampur, seluruh elemen pemerintah berkumpul untuk merumuskan langkah strategis. Tujuannya satu: mengangkat martabat kopi Manggarai melalui program pengembangan kawasan dan rehabilitasi tanaman yang masif.Menata Masa Depan, Menggapai Potensi Optimal
Tahun ini menjadi tahun yang penuh harapan. Pemerintah Kabupaten Manggarai mendapat kepercayaan dari pusat dengan alokasi target seluas kurang lebih 1.100 hektare untuk pengembangan dan rehabilitasi kopi. Sebuah angka yang besar, yang menuntut tanggung jawab yang setimpal.
“Kopi bukan sekadar komoditas, ia adalah masa depan banyak keluarga,” demikian semangat yang tercermin dalam diskusi tersebut. Rencananya, kegiatan di lapangan akan segera digulirkan mulai Mei mendatang, setelah seluruh persiapan teknis dan administrasi rampung.
Namun, pengembangan ini tidak dilakukan secara serampangan. Pemerintah daerah kini didukung tim nasional untuk melakukan kajian mendalam terkait kesesuaian lahan, ketinggian wilayah, dan kondisi geografis.
Ilmu pengetahuan dan data menjadi kompas utama, memastikan bahwa setiap bibit yang ditanam tumbuh di tempat yang paling tepat, menghasilkan kualitas terbaik yang mampu bersaing di pasar luas.
Beberapa wilayah telah diidentifikasi memiliki potensi luar biasa. Kecamatan seperti Rahong Utara, Reok Barat, dan Cibal masuk dalam daftar prioritas. Menariknya, potensi besar juga terlihat di kawasan Langke Rembong yang selama ini belum sepenuhnya tertampung dalam perencanaan kawasan perkebunan, namun secara teknis memiliki prospek yang sangat menjanjikan.Dari Bibit hingga Pemasaran: Sebuah Gerakan Holistik
Kepala Bapperida, Livinus Vitalis Liven Turuk, menegaskan bahwa visi pengembangan ini tidak berhenti di ladang. “Kita tidak hanya bicara soal menambah jumlah pohon. Ini soal hilirisasi, pemasaran, dan yang paling penting, penguatan kelembagaan petani,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Ferdy Ampur, menekankan aspek pendampingan sebagai kunci keberhasilan. Mulai dari verifikasi Calon Petani dan Calon Lahan (CPCL), penyediaan bibit unggul, hingga perawatan, semua harus didampingi secara intensif.
“Keberhasilan ini bergantung pada kesiapan teknis dan keterlibatan aktif petani. Kami pastikan penyuluh ada di garis depan, memastikan setiap langkah tepat guna,” tegas Ferdy.
Lambertus Paput selaku pimpinan rapat juga mengingatkan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Program ini harus berbasis data dan menjawab kebutuhan riil di lapangan, bukan sekadar retorika birokrasi.
Menatap Tantangan dengan Semangat KebersamaanDi balik optimisme tersebut, ada realitas yang harus dihadapi bersama. Dalam rapat tersebut disoroti bahwa saat ini belum tersedia insentif khusus, baik dari APBN maupun APBD, untuk mendukung kegiatan pembukaan lahan dan pemeliharaan awal.
Ini adalah tantangan yang nyata. Namun, semangat di ruang rapat itu tak luntur. Justru, kondisi ini menjadi panggilan bagi seluruh Camat, Lurah, Kepala Desa, dan masyarakat untuk bahu-membahu. Mengawal program ini dengan serius, berinovasi, dan memastikan bahwa semangat pembangunan tidak padam meski di tengah keterbatasan anggaran.
Pemerintah daerah bertekad menjembatani sinergi antara kebijakan pusat dan pemberdayaan masyarakat. Dukungan infrastruktur dan sarana prasarana akan terus didorong agar roda ekonomi kopi ini bisa berputar kencang.
Sebagaimana sebuah pohon kopi yang butuh waktu, kesabaran, dan perawatan untuk berbuah lebat, program di Manggarai ini pun adalah investasi jangka panjang.
Ini adalah upaya untuk memastikan bahwa dari tanah yang sama, lahir kemakmuran yang lebih adil, dan dari setiap biji yang dipanen, tersimpan cerita tentang perjuangan dan kebanggaan masyarakat Manggarai.




