
KLIKSULSEL_Ruteng – Pagi di halaman Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Manggarai seharusnya dimulai dengan kepastian.
Angka “08.00” yang terpampang di papan informasi menjadi janji sunyi—sebuah komitmen tentang layanan yang siap menyambut warga sejak awal hari. Namun kenyataan berkata lain.Waktu berjalan, antrean mengular, dan pelayanan baru benar-benar bergerak ketika jarum jam mendekati pukul sembilan.
Di antara wajah-wajah yang menanti, terselip rasa kecewa yang tak lagi bisa disembunyikan. Seorang warga, yang sejak pagi telah berdiri dalam barisan, mengungkapkan kegundahannya. Ia datang dengan harapan sederhana: dilayani tepat waktu. Tetapi harapan itu tertunda hampir satu jam.
“Sangat kecewa melihat masyarakat banyak yang antre menunggu pelayanan tersebut,” ujarnya, suaranya mencerminkan kegelisahan yang dirasakan banyak orang.
Situasi ini menghadirkan pertanyaan mendasar tentang makna profesionalisme dalam pelayanan publik. Ketika waktu yang dijanjikan tak sejalan dengan realita, kepercayaan publik pun perlahan tergerus.
“Kami Wajib Ikut Apel di Natas Labar”
Menanggapi keluhan warga, Kepala Dinas Dukcapil Kabupaten Manggarai, Yakobus Banggut, S.Sos, memberikan penjelasan yang membuka sisi lain dari keterlambatan tersebut.
Ia menegaskan bahwa secara aturan, pelayanan memang dimulai pukul 08.00 Wita, berlaku dari Senin hingga Jumat. Namun, ada kewajiban lain yang tak bisa diabaikan, khususnya di awal pekan.“Betul pelayanan mulai jam 08.00 pagi setiap hari mulai Senin sampai dengan Jumat. Tetapi hari Senin kami harus dan wajib sekali lagi harus dan wajib mengikuti apel mingguan di halaman Natas Labar Motang Rua Ruteng, sehingga pelayanan mulai setelah selesai apel bersama,” jelasnya.
Pernyataan itu menjadi kunci dari situasi yang selama ini dipertanyakan masyarakat.
Keterlambatan bukan semata karena kelalaian, melainkan konsekuensi dari kewajiban institusional: apel pagi yang diikuti seluruh jajaran pegawai di lokasi terpisah sebelum kembali ke kantor untuk melayani masyarakat.Antara Disiplin Internal dan Ekspektasi Publik
Di balik rutinitas birokrasi, terdapat dua kepentingan yang berjalan beriringan—bahkan terkadang saling bersinggungan. Di satu sisi, apel pagi adalah simbol disiplin, wadah pembinaan mental, dan penguatan koordinasi aparatur. Namun di sisi lain, masyarakat datang membawa kebutuhan mendesak yang tak selalu bisa menunggu.
Yakobus mengakui bahwa kritik yang datang dari masyarakat adalah masukan berharga. Ia menyebutkan bahwa evaluasi dan pembinaan pegawai terus dilakukan secara berkala, baik melalui rapat dinas maupun apel internal.
“Terimakasih masukan yang baik konstruktif ini,” katanya singkat.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa ruang perbaikan tetap terbuka, meski tantangan di lapangan tidak sederhana.
Catatan untuk Pelayanan Publik yang Lebih PekaKisah di Dukcapil Manggarai ini bukan sekadar soal selisih waktu satu jam. Ia adalah cermin kecil dari dinamika pelayanan publik di banyak tempat—tentang bagaimana sistem bekerja, dan bagaimana masyarakat merasakannya.
Di satu titik, disiplin internal menjadi fondasi penting. Namun di titik lain, transparansi informasi dan penyesuaian jadwal menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik. Ketika papan pengumuman menyampaikan satu hal, tetapi realitas menunjukkan hal lain, di situlah jarak antara institusi dan masyarakat mulai terasa.
Harapannya sederhana namun bermakna: ada penyesuaian yang lebih bijak. Entah melalui perubahan jam layanan yang diinformasikan secara jujur, atau pengaturan mekanisme pelayanan yang tetap berjalan meski apel berlangsung.Agar pagi di Dukcapil tak lagi dipenuhi kegelisahan, melainkan kepastian—bahwa setiap janji yang tertulis benar-benar hadir dalam kenyataan.





