Jahmada Girsang Disorot Usai Insiden Nyaris Adu Jotos dengan Refly Harun di Siaran Langsung Rakyat Bersuara

Avatar photo
Foto Screenshot insiden nyaris adu jotos dengan Refly Harun dalam siaran langsung program Rakyat Bersuara pada 22 April 2026.(Net).

KLIKSULSEL_Jakarta, Sorot lampu studio menyala terang, tetapi suasana di panggung terasa jauh dari hangat. Di tengah perdebatan hukum yang semestinya menjadi ruang adu argumen, emosi justru mengambil alih.

Nama Jahmada Girsang kini menjadi perbincangan publik setelah insiden nyaris adu jotos dengan Refly Harun dalam siaran langsung program Rakyat Bersuara pada 22 April 2026.

Peristiwa itu bukan sekadar drama televisi—ia mencerminkan retakan dalam dinamika hukum, relasi profesional, dan tekanan opini publik yang kian mengeras.

Baca Juga:  Danau Baikal: “Lautan” Tersembunyi di Tengah Daratan Rusia
Kronologi Insiden: Dari Adu Argumen ke Ketegangan Fisik

Debat yang awalnya berjalan dalam koridor diskusi hukum berubah menjadi panas ketika topik beralih ke dugaan ijazah palsu Presiden RI ke-7, Joko Widodo.

Baca Juga:  Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62, Rutan Ruteng Gelar Bazar Murah dan Layanan Kesehatan Gratis untuk Masyarakat
Dalam perdebatan tersebut, Jahmada Girsang membela kliennya, Rismon Sianipar, yang sebelumnya sempat mengajukan pendekatan restorative justice (RJ) dan menyampaikan permintaan maaf. Namun, posisi itu tampaknya berbenturan dengan strategi hukum pihak lain.

Refly Harun, yang saat itu bertindak sebagai kuasa hukum Roy Suryo dan Dokter Tifa, menyampaikan pandangan yang dinilai Jahmada menyinggung dan tidak dapat diterima.

Baca Juga:  Antisipasi Macet dan Kecelakaan, Satlantas Bulukumba Terapkan Sistem Satu Arah di Depan RSUD Sultan Daeng Raja
Ketegangan meningkat cepat—gestur tubuh berubah tegang, suara meninggi, hingga akhirnya terjadi aksi saling dorong. Kamera yang tetap menyala menangkap momen ketika batas antara debat intelektual dan konflik personal menjadi kabur.

“Teman Baik” yang Berseberangan

Di tengah panasnya situasi, muncul sisi lain yang justru memperdalam ironi. Refly Harun sempat menyebut Jahmada sebagai “teman baik”—sebuah pengakuan yang menambah lapisan emosional dalam konflik tersebut.

Namun, Refly juga menyayangkan perubahan sikap Jahmada yang dianggapnya terjadi tanpa komunikasi sebelumnya.

Dalam dunia hukum yang sering kali dibangun di atas jejaring profesional dan kepercayaan, perubahan arah tanpa sinyal dapat menjadi pemicu gesekan yang tak terhindarkan.

Siapa Jahmada Girsang?
Di balik insiden yang viral, sosok Jahmada Girsang bukanlah nama baru di dunia hukum. Ia dikenal sebagai pengacara yang kerap berada di pusaran kasus-kasus kontroversial.

Baca Juga:  Ketika Lalu Lintas Bertemu Gizi: Sinergi Satlantas Polres Manggarai dan SPPG Golo Dukal 2 yang Menggerakkan Perubahan
Beberapa poin penting tentang dirinya:
1. Karier Hukum yang Sarat Kontroversi
Jahmada pernah terlibat dalam tim penasihat hukum untuk sejumlah tokoh, termasuk Rismon Sianipar, Roy Suryo, dan Dokter Tifa. Namun, dinamika strategi hukum membuat hubungan profesional tersebut mengalami perpecahan.

2. Direktur Eksekutif LEMSAKTI
Selain berpraktik sebagai pengacara, ia juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif di Lembaga Sumbangan Agama Kristen Indonesia, sebuah lembaga yang bergerak di bidang sosial-keagamaan.

Baca Juga:  Suasana Khidmat Pelaksanaan Idul Adha 1447 H di Masjid Fastabiqul Khaerat Desa Manyampa
Antara Hukum dan Emosi

Insiden ini membuka kembali pertanyaan lama: sejauh mana profesionalisme dapat bertahan ketika tekanan publik dan konflik kepentingan saling bertabrakan?

Di satu sisi, panggung hukum adalah ruang rasional—tempat argumen diuji dengan logika dan data. Namun di sisi lain, ia juga dihuni manusia dengan ego, keyakinan, dan relasi personal yang kompleks.

Baca Juga:  Pesona Pinisi Mendunia: Kadisparpora Sambut 90 Wisatawan MV Coral Geographer di Tana Beru
Peristiwa antara Jahmada Girsang dan Refly Harun menjadi pengingat bahwa bahkan di ruang paling formal sekalipun, emosi dapat menyelinap—pelan, lalu meledak.

Dan ketika itu terjadi di depan kamera, ia tak lagi sekadar perdebatan. Ia berubah menjadi cermin—memantulkan wajah hukum yang tak selalu hitam-putih, melainkan penuh nuansa, konflik, dan kemanusiaan.

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *