Miris! Pria Paruh Baya di Bulukumba Tinggal di Rumah Setengah Jadi Tanpa Fasilitas

Avatar photo
Ramli warga Bulukumba yang hidup tak layak dekat kantor DPRD Bulukumba. (Dok. Relawan Kemanusiaan Bulukumba/Andhika Mappasomba)

KLIKSULSEL, Bulukumba – Di balik hiruk-pikuk pusat kota Bulukumba, sebuah kisah sunyi berjalan nyaris tanpa saksi. Seorang pria paruh baya bernama Ramli menjalani hari-harinya dalam kondisi memprihatinkan, tinggal di rumah tak layak huni yang bahkan belum rampung dibangun.

Selama lima tahun terakhir, Ramli hidup seorang diri di bangunan setengah jadi yang berdiri diam seperti waktu yang enggan bergerak. Lokasinya tersembunyi—di lorong samping patung depan Kantor DPRD Bulukumba.

Baca Juga:  Raksha Loka Fest 2026 Gaungkan Semangat “Jaga Alam, Jaga Kehidupan” dan Perkuat Ekonomi Lokal
Dari jalan utama, warga harus berjalan sekitar 100 meter ke dalam lorong, lalu berbelok ke belakang sebuah bengkel di sisi kiri. Di sanalah rumah itu berdiri, sekitar 50 meter dari tembok belakang kanan gedung DPRD.

Bangunan tersebut jauh dari kata layak. Dindingnya belum diplester, lantainya masih tanah yang dingin dan berdebu, serta tanpa perabot ataupun penerangan memadai. Saat malam tiba, gelap bukan sekadar suasana—ia menjadi teman yang tak bisa ditolak.

Baca Juga:  Video Viral Desa Golo Meleng: Suara Minta Tolong di Tengah Malam, Polisi Belum Terima Laporan Resmi
Kondisi Ramli pertama kali mencuat setelah Relawan Kemanusiaan, Andhika Mappasomba, mengunggah situasi tersebut ke media sosial pada Kamis, 2 April 2026. Dalam unggahannya, Andhika menggambarkan dengan rinci lokasi dan kondisi Ramli yang kian melemah.

“Masuk lorong samping patung di kantor DPRD Bulukumba, sekitar 100 meter. Belakang bengkel sebelah kiri. Rumah belum jadi. Atau sekitar 50 meter dari tembok belakang kanan gedung DPRD,” tulis Andhika.

Tak hanya persoalan tempat tinggal, Ramli juga menghadapi keterbatasan fisik yang membuatnya sulit menjalani aktivitas sehari-hari. Geraknya terbatas, bahkan untuk sekadar mengambil air pun ia tak lagi mampu melakukannya sendiri.

Baca Juga:  6 Bulan Kasus Kematian Restina Tija Mandek, PMKRI Ruteng Demo Tagih Keadilan
Untuk bertahan hidup, Ramli masih menggunakan tungku sederhana dari susunan batu. Ranting kayu yang dikumpulkan di sekitar rumah menjadi satu-satunya bahan bakar. Ia tidur di atas lantai tanah, beralaskan sarung tipis tanpa kasur, tanpa tikar—hanya tubuh yang berusaha berdamai dengan kerasnya bumi.

Di balik semua itu, ada persoalan yang lebih sunyi namun krusial: Ramli tidak memiliki dokumen administrasi kependudukan seperti KTP dan Kartu Keluarga. Akibatnya, ia terputus dari akses layanan kesehatan dan bantuan sosial yang seharusnya menjadi jaring pengaman terakhir.

Riwayat hidupnya sederhana dan penuh kehilangan. Ia pernah menikah, namun tidak memiliki anak. Kedua orang tuanya telah tiada, sementara keluarga lainnya merantau jauh—ke Malaysia, Kalimantan, hingga Kendari—menyisakan Ramli dalam kesendirian yang panjang.

Baca Juga:  SISPALA SIMPAT SMAN 4 Bulukumba Gelar Baksos, Menyemai Kepedulian dan Solidaritas di Lingkungan Sekolah
Akses air bersih pun menjadi persoalan lain. Selama ini ia bergantung pada sumur milik tetangga. Namun dengan kondisi fisik yang kian melemah, bahkan kebutuhan dasar itu kini menjadi beban yang tak terjangkau.

Melihat kondisi tersebut, relawan kemanusiaan kini bergerak menggalang bantuan. Kebutuhan mendesak seperti kasur, bantal, tikar, peralatan dapur, bahan pangan, alat kebersihan hingga selang air menjadi prioritas.

Di saat yang sama, mereka juga mendorong pengurusan dokumen kependudukan agar Ramli dapat memperoleh akses layanan kesehatan dan bantuan sosial secara berkelanjutan.
Bagi masyarakat yang ingin membantu, dapat menghubungi Relawan Kemanusiaan Bulukumba melalui nomor 085242496423 atas nama Andhika Mappasomba.

Kisah Ramli menjadi ironi yang menggema pelan—terjadi di jantung kota, tak jauh dari gedung wakil rakyat, namun luput dari perhatian yang seharusnya hadir lebih awal.

Harapan kini menggantung pada langkah cepat pemerintah daerah untuk turun tangan, bukan hanya memberi bantuan sesaat, tetapi juga menghadirkan solusi jangka panjang bagi kehidupan yang nyaris terabaikan ini.

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *