KLIKSULSEL– BULUKUMBA Di bawah langit yang terik pada Jumat, 1 Mei 2026, hiruk-pikuk lalu lintas seketika kalah oleh pekikan orasi yang memecah udara. Hari itu bukan sekadar tanggal merah di kalender bagi kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Bulukumba. Bagi mereka, May Day adalah panggilan nurani untuk menjadi penyambung lidah bagi mereka yang suaranya sering kali teredam oleh bisingnya mesin pabrik dan dinginnya tembok perkantoran.
Membasuh Luka Buruh di Butta Panrita Lopi
Aksi yang digelar PMII Bulukumba ini bukan sekadar seremoni tahunan. Dengan spanduk yang membentang dan kepalan tangan yang merujuk ke langit, mahasiswa mengingatkan kita pada sebuah realitas pahit di balik pembangunan daerah, masih ada keringat buruh yang dihargai murah.
Refleksi atas Ketimpangan Upah
Inti dari kegelisahan mereka adalah angka-angka. Mahendra, sang koordinator lapangan, berdiri di barisan depan dengan suara parau namun tegas. Ia menyoroti ironi di Butta Panrita Lopi, di mana standar Upah Minimum Kabupaten (UMK) sering kali hanya dianggap sebagai angka di atas kertas, bukan kewajiban yang harus ditunaikan oleh para pemilik modal.”Bagaimana mungkin kesejahteraan bisa tercapai jika hak dasar saja dikhianati? Pemerintah tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah eksploitasi tenaga kerja,” ungkapnya dengan nada reflektif.
Menagih Kehadiran Negara
Aksi ini juga menjadi cermin bagi pemerintah daerah. PMII menilai ada celah besar dalam fungsi pengawasan. Ketika perusahaan melanggar aturan tanpa sanksi, di situlah wibawa hukum dipertaruhkan. Tuntutan mereka tegas tindakan nyata hingga penutupan usaha bagi mereka yang membandel. Ini bukan sekadar ancaman, melainkan bentuk pembelaan terhadap martabat kemanusiaan para pekerja.
Harapan di Balik Barisan,Meskipun tensi orasi meninggi, kedewasaan berdemokrasi tetap terjaga. Di bawah pengawalan kepolisian, massa aksi menunjukkan bahwa kritik tajam bisa disampaikan dengan tertib.Pesan moral dari aksi ini sangat jelas Kesejahteraan bukan hadiah, melainkan hak yang harus diperjuangkan.Pembangunan ekonomi tidak boleh menumbalkan hak-hak pekerja.
Mahasiswa tetap menjadi pengawal setia bagi keadilan sosial di daerah.
Ketika matahari mulai condong ke barat, massa perlahan membubarkan diri. Namun, gema tuntutan mereka masih tertinggal di aspal jalanan Bulukumba, menunggu jawaban nyata dari para pemangku kebijakan. Semoga esok, keringat para buruh di Bulukumba benar-benar terbayar setimpal dengan martabat yang mereka pertaruhkan setiap harinya.





