KLIKSULSEL_Bulukumba – Di pesisir selatan Sulawesi Selatan, deru ombak Tana Beru menyatu dengan denting palu para panrita lopi. Jumat, 30 Januari 2026, tradisi berusia ratusan tahun itu kembali menjadi panggung dunia ketika 90 wisatawan mancanegara dari kapal pesiar mewah MV Coral Geographer menapakkan kaki di kampung pembuat kapal Pinisi legendaris.
Para wisatawan yang datang dari Australia, Selandia Baru, Inggris, Spanyol, hingga Amerika Serikat itu disambut langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Bulukumba, Hamrina Andi Muri, bersama jajaran Disparpora, Camat Bonto Bahari Andi Arfan Syukri, serta tokoh masyarakat setempat.
Penyambutan berlangsung hangat, mengalir dalam suasana kekeluargaan khas pesisir Bulukumba.
Ia menegaskan bahwa bantilang Tana Beru adalah simbol ketangguhan peradaban maritim Nusantara, yang telah diakui dunia melalui penetapan Pinisi sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO pada 2017.
“Kami sangat bangga menyambut kehadiran para tamu dari berbagai belahan dunia. Semoga kunjungan ini meninggalkan kesan mendalam, sehingga di masa depan Bapak dan Ibu dapat kembali lagi bersama keluarga untuk menikmati keindahan Bulukumba,” ujar Hamrina.
Tak hanya Pinisi, Hamrina juga mempromosikan ragam destinasi unggulan Bulukumba, mulai dari hamparan pasir putih Tanjung Bira, hingga kearifan lokal Suku Adat Ammatoa Kajang yang menjaga harmoni alam melalui pola hidup sederhana dan busana serba hitam.
Ia turut mengundang para wisatawan untuk hadir dalam Festival Pinisi, agenda tahunan yang menjadi simbol komitmen pelestarian budaya maritim daerah.
Prosesi penyambutan berlangsung khidmat namun meriah. Momen istimewa tercipta ketika Kadisparpora menyerahkan cenderamata miniatur Pinisi kepada salah satu wisatawan yang bertepatan merayakan ulang tahun.
Sebagai balasan penuh kehangatan, rombongan wisatawan juga menyerahkan cenderamata kepada Camat Bonto Bahari.
Pengalaman budaya autentik disuguhkan lewat pertunjukan seni tradisional, mulai dari tarian daerah, atraksi api yang memukau, hingga permainan Ma’laga bola takraw yang mengundang decak kagum.
Sambil menikmati semilir angin pantai, para wisatawan mencicipi kuliner khas lokal seperti onde-onde, pisang goreng, serta rambutan segar yang menambah keakraban suasana.
Usai seremonial, para tamu diajak menelusuri langsung kawasan industri pembuatan kapal Pinisi.
Dengan didampingi pemandu wisata dan staf Disparpora, mereka menyaksikan proses konstruksi kapal yang masih dilakukan secara tradisional—tanpa gambar teknik formal, namun terbukti mampu melahirkan kapal tangguh penjelajah samudera.
Antusiasme terlihat jelas dari raut wajah para wisatawan yang tak henti mengabadikan momen, berdialog dengan para pengrajin, hingga membeli oleh-oleh khas Tana Beru sebagai kenang-kenangan.
Tepat pukul 12.00 WITA, rombongan kembali ke MV Coral Geographer, meninggalkan jejak cerita tentang Bulukumba yang bersahaja namun mendunia.
Kunjungan singkat namun padat ini diharapkan semakin mengukuhkan Kabupaten Bulukumba sebagai destinasi wisata unggulan internasional, sekaligus menghadirkan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal—sebuah pertemuan indah antara tradisi, pariwisata, dan masa depan maritim Indonesia.










