
KLIKsulsel, OPINI– Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara remaja berinteraksi, belajar, dan membangun identitas diri. Jika dahulu keluarga menjadi lingkungan utama dalam pembentukan karakter, kini peran tersebut semakin banyak diambil alih oleh media sosial, influencer, dan komunitas digital.
Fenomena ini memunculkan tantangan baru bagi orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak di era internet. Pergaulan digital tidak hanya memperluas akses informasi, tetapi juga menggeser pola sosialisasi yang selama ini berpusat pada keluarga.
Menurut Marselina Hadia Umbis, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng, perubahan tersebut berpotensi memengaruhi pembentukan karakter remaja secara signifikan apabila tidak diimbangi dengan pendampingan keluarga yang memadai.
Krisis Otoritas: Ketika Influencer Lebih Didengar daripada Orang Tua
Salah satu perubahan paling mencolok terjadi pada sumber otoritas moral remaja. Jika sebelumnya orang tua menjadi figur utama dalam memberikan arahan dan nilai-nilai kehidupan, kini banyak remaja lebih terpengaruh oleh figur publik di media sosial.
Budaya digital menghadirkan bentuk validasi baru berupa jumlah pengikut, tanda suka (likes), komentar, dan tayangan (views). Akibatnya, penghargaan terhadap karakter seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kesabaran sering kali kalah dibanding pencarian popularitas di ruang digital.
Tidak sedikit remaja yang menjadikan influencer sebagai panutan utama dalam menentukan gaya hidup, pola pikir, hingga cara berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Ruang Gema Digital Membentuk Pola Pikir yang Kaku
Media sosial bekerja menggunakan algoritma yang cenderung menampilkan konten sesuai minat pengguna. Kondisi ini menciptakan fenomena yang dikenal sebagai echo chamber atau ruang gema, yaitu lingkungan digital yang terus memperkuat pandangan yang sama.
Dalam keluarga, anak biasanya belajar menghadapi perbedaan pendapat, bernegosiasi, dan memahami sudut pandang orang lain. Sebaliknya, di ruang digital, perbedaan sering kali direspons dengan perdebatan emosional, hujatan, atau budaya pembatalan (cancel culture).
Akibatnya, sebagian remaja menjadi lebih defensif terhadap kritik, kurang terbiasa berdialog secara sehat, dan sulit menerima pandangan yang berbeda dari dirinya.Orang Tua Kehilangan Sistem Deteksi Dini Masalah Anak
Keluarga selama ini berperan sebagai sistem peringatan dini terhadap berbagai persoalan yang dialami anak, mulai dari tekanan psikologis hingga pengaruh lingkungan negatif.
Namun, hadirnya ruang digital membuat banyak masalah remaja berlangsung secara tertutup. Curahan hati yang dahulu disampaikan kepada orang tua kini lebih sering dibagikan melalui media sosial, grup percakapan daring, atau komunitas virtual.
Kondisi tersebut membuat orang tua semakin sulit mendeteksi gejala stres, kecemasan, depresi, hingga kasus perundungan siber (cyberbullying). Tidak jarang keluarga baru menyadari masalah ketika dampaknya sudah berkembang menjadi krisis yang lebih serius.
Budaya Serba Instan Mengancam Ketangguhan Mental Remaja
Pergaulan digital juga memperkenalkan budaya instan yang berpotensi memengaruhi daya juang generasi muda. Di media sosial, kesuksesan sering ditampilkan sebagai hasil yang diperoleh secara cepat dan mudah.
Narasi tersebut berbeda dengan nilai yang selama ini ditanamkan keluarga, seperti kerja keras, kesabaran, dan kemampuan menghadapi proses panjang.
Paparan berlebihan terhadap konten yang menonjolkan keberhasilan instan dapat membuat remaja lebih mudah frustrasi ketika menghadapi kegagalan dalam kehidupan nyata, baik di sekolah maupun lingkungan sosial.Akibatnya, kemampuan resiliensi atau daya lenting dalam menghadapi tantangan menjadi semakin rentan.
Rebut Kembali Peran Keluarga di Era DigitalMeski demikian, solusi atas fenomena ini bukanlah menjauhkan anak sepenuhnya dari teknologi. Langkah tersebut dinilai tidak realistis mengingat teknologi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sebaliknya, keluarga perlu beradaptasi dengan menjadi pendamping sekaligus mentor digital bagi anak-anak mereka.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Menciptakan waktu berkualitas tanpa gawai di lingkungan keluarga.
Meningkatkan literasi digital bersama anak.
Memberikan apresiasi terhadap karakter positif dan usaha anak, bukan hanya prestasi akademik.Menjadi teladan dalam penggunaan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab.
Dengan pendekatan tersebut, keluarga dapat tetap menjadi ruang utama pembentukan karakter sekaligus membantu remaja menghadapi tantangan dunia digital.
Karakter Remaja Tetap Berawal dari Rumah
Pergaulan digital telah menjadi realitas yang tidak dapat dihindari. Di satu sisi, teknologi menghadirkan peluang besar untuk belajar dan terhubung dengan dunia. Namun di sisi lain, pengaruhnya terhadap pembentukan karakter remaja membutuhkan perhatian serius dari keluarga.
Marselina Hadia Umbis menegaskan bahwa tantangan terbesar keluarga pada abad ke-21 bukan hanya memenuhi kebutuhan materi dan pendidikan anak, melainkan menjaga kedekatan emosional agar rumah tetap menjadi tempat utama pembentukan karakter.Di tengah derasnya arus informasi dan ekonomi perhatian (attention economy), keluarga dituntut untuk kembali menjadi ruang yang menghadirkan nilai, empati, dan keteladanan bagi generasi muda.
Penulis: Marselina Hadia Umbis Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng




