Manggarai, KLIKsulsel – Di balik perbukitan yang sunyi di Desa Kajong, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, sekitar 250 warga Kampung Klumpang menaruh harapan besar pada sebuah mata air yang selama bertahun-tahun tersembunyi di balik semak belukar. Namanya Wae Lipang. Bagi warga, sumber air ini bukan sekadar mata air, melainkan harapan untuk mengakhiri perjuangan panjang mencari air bersih setiap hari.
Harapan itu mulai diwujudkan melalui aksi gotong royong yang digelar Sabtu (20/6/2026). Tanpa alat berat dan tanpa menunggu proyek pemerintah, warga dari berbagai kalangan turun langsung membuka akses menuju sumber air. Tokoh adat, para tetua kampung, pemuda, ibu-ibu hingga anak-anak bahu-membahu membersihkan jalan setapak, menebas ilalang, serta membuka kembali kawasan mata air yang selama ini nyaris terlupakan.
Sebelum pekerjaan dimulai, suasana mendadak hening. Warga duduk melingkar mengelilingi mata air untuk menggelar ritual adat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan alam. Sebuah telur yang bagian atasnya dibuka diletakkan di atas batang kayu sebagai simbol permohonan restu agar sumber kehidupan itu dapat dimanfaatkan secara bijaksana dan tetap lestari.“Ini adalah warisan turun-temurun. Kami memohon agar perjuangan ini tidak sia-sia, agar air ini dapat memberi kehidupan bagi keluarga kami,” ujar tokoh adat Kampung Klumpang, Marsianus Min, usai memimpin ritual.
Prosesi adat itu menjadi penanda dimulainya kerja bersama. Warga kemudian membersihkan lumpur, lumut, dan batang kayu yang menutupi mata air. Batu-batu disusun mengelilingi sumber air, sementara kolam penampungan sederhana sedalam sekitar 30 sentimeter digali untuk menampung debit air yang mulai muncul ke permukaan.
Batang-batang bambu kemudian dipasang sebagai saluran sementara. Tak lama berselang, air bening mengalir keluar. Beberapa warga langsung menadah dan mencicipinya. Senyum pun pecah. Setelah bertahun-tahun bergantung pada sumber air yang jauh, Wae Lipang akhirnya kembali mengalir.
Satu Mata Air, Enam Sumber Kehidupan
Hasil penelusuran warga menunjukkan potensi Wae Lipang jauh lebih besar dari yang diperkirakan. Di kawasan yang masih dipenuhi pohon beringin, aren, kemiri, dan vegetasi alami lainnya itu, ditemukan lima hingga enam titik mata air yang berdekatan.
Seluruh sumber tersebut diyakini dapat diintegrasikan menjadi satu sistem penyediaan air bersih untuk melayani seluruh warga Kampung Klumpang.
Sekretaris Lembaga Pengawal Kebijakan Pemerintah dan Keadilan (LP KPK) Manggarai, Jerry, yang ikut meninjau lokasi, menilai potensi sumber air tersebut sangat layak dikembangkan.
“Secara teknis, potensinya sangat menjanjikan. Airnya jernih, debitnya cukup untuk melayani seluruh warga Klumpang,” katanya.
Jalan Terjal Menuju Air Bersih
Meski menyimpan potensi besar, Wae Lipang belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan warga. Lokasinya berada sekitar 500 meter dari permukiman dengan medan berbukit dan cukup terjal.
Setiap hari, warga—terutama perempuan dan anak-anak—masih harus berjalan kaki melewati tanjakan dan turunan hanya untuk memperoleh air bersih bagi kebutuhan rumah tangga.
Kondisi geografis juga membuat akses menuju Kampung Klumpang tidak mudah. Dari pusat Desa Kajong, jaraknya mencapai sekitar 8 kilometer, sedangkan menuju wilayah Wangkal sekitar 15 kilometer.
Penjabat Kepala Desa Kajong, Sebastianus Emon, mengatakan luas wilayah menjadi tantangan tersendiri dalam pemerataan pelayanan publik. Karena itu, pemerintah desa tengah mengusulkan pemekaran wilayah menjadi tiga desa, yakni Desa Kajong, Desa Kajong Timur yang mencakup Klumpang, dan Desa Kajong Barat yang meliputi Wangkal.
Warga Menunggu Hadirnya Negara
Di tengah semangat swadaya masyarakat, harapan terhadap dukungan pemerintah tetap mengemuka. Tokoh adat Marsianus Min menyampaikan bahwa kebutuhan warga tidak berhenti pada penyediaan air bersih.
Masyarakat juga membutuhkan perbaikan jalan, rumah layak huni, fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK), hingga pembangunan jalan usaha tani sepanjang sekitar 3 kilometer.
“Kami memohon perhatian Bupati Herybertus G.L. Nabit. Selain air bersih, kami juga membutuhkan perbaikan jalan, rumah layak huni, fasilitas MCK, serta jalan usaha tani sepanjang 3 kilometer,” ujarnya.
Bagi warga Klumpang, gotong royong membuka Wae Lipang bukan hanya tentang membersihkan mata air. Aksi itu menjadi simbol bahwa masyarakat tidak tinggal diam menghadapi keterbatasan. Mereka telah memulai dengan tenaga dan kebersamaan yang dimiliki. Kini, mereka berharap langkah kecil dari pelosok Reok Barat itu disambut dengan kebijakan nyata agar air bersih benar-benar mengalir ke setiap rumah, bukan sekadar menjadi harapan yang terus ditunggu.




