Keuskupan Ruteng dan Wahana Visi Indonesia Latih 60 Fasilitator Pendamping Keluarga Anak Berkebutuhan Khusus

Avatar photo
Foto bersama Pendamping fasilitator pelatihan anak berkebutuhan khusus di Wisma Efata Ruteng Kabupaten Manggarai. (Red).

Kliksulsel, RUTENG, – Keuskupan Ruteng bekerja sama dengan Wahana Visi Indonesia (WVI) Cluster Manggarai melatih 60 fasilitator pendamping keluarga anak berkebutuhan khusus (ABK) atau anak difabel guna memperkuat layanan pendampingan di wilayah Manggarai dan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pelatihan yang berlangsung selama empat hari, mulai 18 hingga 21 Juni 2026 di Wisma Efata, Ruteng, tersebut merupakan tindak lanjut dari Rekomendasi Sinode IV Sesi 3 Keuskupan Ruteng yang menekankan pentingnya perhatian terhadap keluarga rentan dan penyandang disabilitas.

Sebanyak 60 peserta mengikuti kegiatan ini. Mereka berasal dari berbagai paroki di Keuskupan Ruteng dan Keuskupan Labuan Bajo, instansi pemerintah, lembaga pendidikan, tenaga kesehatan, hingga tokoh masyarakat tingkat desa.

Ketua Komisi Kesehatan Keuskupan Ruteng, RD Peppy Bora, mengatakan pelatihan tersebut merupakan respons atas kebutuhan nyata yang dihadapi keluarga dengan anak berkebutuhan khusus, terutama di wilayah pedesaan yang masih memiliki keterbatasan akses terhadap layanan pendampingan.

“Harapan kami, para peserta terlibat secara aktif dan proaktif. Pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan harus dapat diterapkan langsung di lingkungan masing-masing agar pendampingan kepada keluarga tidak berhenti pada tataran teori,” kata Peppy saat membuka kegiatan.

Minimnya Layanan bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Pedesaan

Manager WVI Cluster Manggarai, Ignatius Anggoro Suryo, mengungkapkan bahwa sebagian besar program intervensi bagi anak disabilitas selama ini masih terpusat di wilayah perkotaan. Kondisi tersebut menyebabkan banyak keluarga di desa dan kampung belum mendapatkan pendampingan yang memadai.

Baca Juga:  Ketika Gelar Akademik Dipertanyakan: Kritik terhadap Pernyataan Edi Hardum dan Logika Hukum di Ruang Publik
Menurut Anggoro, masih banyak orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus namun belum memahami cara merawat, mendidik, dan mengembangkan potensi anak secara optimal.

“Kami melihat banyak keluarga di pelosok yang memiliki anak berkebutuhan khusus, tetapi tidak mengetahui bagaimana cara memberikan pendampingan yang tepat. Melalui pelatihan ini, kami ingin menghadirkan fasilitator yang dapat mendampingi keluarga secara berkelanjutan di tingkat komunitas,” ujarnya.

Pendampingan Berbasis Nilai Kemanusiaan dan Inklusivitas

Selain membekali peserta dengan keterampilan teknis, pelatihan juga menekankan pentingnya pendekatan kemanusiaan dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus.

Baca Juga:  Tambang Tanpa Izin Menggurita di Sulteng, FLH: Negara Jangan Kalah oleh Praktik Ilegal
Anggota Komisi Pastoral Anak dan Karitas Keuskupan Ruteng, RD Benediktus Gaguk atau Romo Beben, menjelaskan bahwa pelayanan terhadap anak difabel harus didasarkan pada empat pilar utama, yakni kemampuan mendengar kebutuhan keluarga, kehadiran yang tulus, sikap inklusif tanpa diskriminasi, serta mendorong partisipasi aktif anak sesuai potensi yang dimiliki.

“Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang istimewa, demikian pula keluarga yang merawat dan membesarkannya. Pendampingan kepada mereka merupakan bentuk kepedulian nyata terhadap sesama,” ujar Romo Beben.

Ia juga mengaitkan semangat pelayanan tersebut dengan nilai-nilai kemanusiaan yang tercermin dalam kisah Bartimeus dalam Injil Markus 10:46–52, ketika Yesus mendengarkan dan menolong seseorang yang membutuhkan pertolongan.

Baca Juga:  Pusdal LH Sulawesi Maluku Dorong Aksi Bersih dan Pembangunan Infrastruktur Hijau di Gunung Bawakaraeng
Hadirkan Akademisi Pendidikan Inklusi

Untuk meningkatkan kualitas pelatihan, panitia menghadirkan dua narasumber dari Politeknik Bentara Citra Bangsa Jakarta, yakni dosen Bimbingan dan Konseling Bunga Tiku Masakke Kobong serta dosen Program Studi Pendidikan Inklusi Kurnia Mega.

Keduanya memberikan materi mengenai pola pengasuhan, pendidikan, serta strategi pengembangan potensi anak berkebutuhan khusus agar dapat berpartisipasi aktif dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Materi tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi para fasilitator saat mendampingi keluarga yang memiliki anak difabel di wilayah tugas masing-masing.

Baca Juga:  Pemkab Manggarai Salurkan Hewan Kurban di Dusun Konggang, Perkuat Persaudaraan dan Kepedulian Sosial
Dorong Pendampingan Berkelanjutan bagi Keluarga ABK

Keuskupan Ruteng dan Wahana Visi Indonesia berharap pelatihan ini menjadi langkah awal dalam membangun sistem pendampingan yang lebih inklusif dan berkelanjutan bagi anak berkebutuhan khusus di Manggarai dan Labuan Bajo.

Para fasilitator yang telah mendapatkan pelatihan diharapkan mampu menjadi penghubung antara kebutuhan keluarga dengan berbagai layanan pendukung yang tersedia.

“Setiap orang memiliki martabat dan hak yang sama tanpa memandang kondisi yang dimiliki. Tugas kita bersama adalah memastikan hak-hak tersebut dapat terpenuhi, dimulai dari lingkungan keluarga,” kata RD Peppy Bora.

Kolaborasi antara lembaga keagamaan, organisasi sosial, pemerintah, tenaga pendidikan, tenaga kesehatan, dan masyarakat dinilai menjadi kunci untuk memastikan layanan pendampingan anak berkebutuhan khusus dapat menjangkau hingga wilayah-wilayah terpencil yang selama ini masih minim akses layanan.

.

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *