KLIKSULSEL_Internasional— Di balik janji keamanan dan modernisasi kepolisian, peluncuran besar-besaran teknologi pengenal wajah di Inggris kini menuai kontroversi serius.
Perangkat lunak yang akan menjadi tulang punggung sistem pengawasan negara itu ternyata diduga telah lebih dulu digunakan di Jalur Gaza — bukan sekadar untuk identifikasi, tetapi untuk pelacakan, penandaan, dan penculikan ribuan warga sipil Palestina oleh militer Israel.
Pengumuman itu datang pada Senin lalu, ketika Menteri Dalam Negeri Inggris, Shabana Mahmood, menyatakan bahwa kepolisian Inggris akan secara masif meningkatkan penggunaan teknologi pengenal wajah (facial recognition) untuk kepentingan pengawasan publik.
Sebuah langkah yang disebut-sebut sebagai bagian dari transformasi keamanan nasional, namun segera mengundang alarm dari aktivis kebebasan sipil.Hasil penelusuran Al Jazeera terhadap badan pengadaan Kementerian Dalam Negeri Inggris, Blue Light Commercial, mengungkap fakta yang mengusik: perusahaan teknologi asal Israel, Corsight AI, dikontrak sebagai subkontraktor oleh perusahaan Inggris Digital Barriers untuk menyediakan perangkat lunak pengenal wajah berbasis kecerdasan buatan.
Nama Corsight AI bukan nama asing di wilayah konflik.
Teknologi mereka dilaporkan telah digunakan oleh militer Israel di Gaza — sebuah wilayah yang dipenuhi pos pemeriksaan, kamera pengawas, dan warga sipil yang hidup di bawah bayang-bayang pemantauan konstan.
Di sana, sistem ini diduga digunakan untuk melacak pergerakan warga Palestina, mengidentifikasi target, hingga memfasilitasi penangkapan paksa.Di Inggris, rencana pemerintah tak kalah ambisius.
Armada 10 van pengenal wajah aktif yang saat ini beroperasi akan diperluas menjadi lebih dari 50 unit, tersebar di seluruh negeri. Kendaraan-kendaraan ini akan memindai wajah publik secara real time,.mencocokkannya dengan daftar pantauan kepolisian.Namun, perluasan ini memicu dua kekhawatiran utama: ancaman terhadap kebebasan sipil dan akurasi teknologi itu sendiri.
Para pegiat HAM memperingatkan bahwa pengawasan massal tanpa persetujuan publik dapat menggerus hak privasi.Bahkan di Gaza, sejumlah pejabat intelijen Israel dilaporkan pernah meragukan keakuratan sistem tersebut — kekeliruan yang dalam konteks konflik dapat berujung pada tragedi kemanusiaan.
Pada April lalu, Digital Barriers mengumumkan bahwa mereka bersama Corsight AI terpilih sebagai salah satu dari tiga penyedia perangkat lunak pengenal wajah, menyusul uji coba enam bulan oleh kepolisian Essex.
Proyek ini merupakan bagian dari program peluncuran nasional senilai 20 juta pound sterling (sekitar 27,6 juta dolar AS).
Kini, pertanyaan besar bergema di ruang publik Inggris:
Apakah teknologi yang ditempa dalam lanskap pendudukan dan konflik layak diterapkan di tengah masyarakat demokratis?
Di persimpangan antara keamanan dan kebebasan, Inggris tampaknya tengah melangkah ke wilayah abu-abu — tempat algoritma mengenali wajah, tetapi mungkin tak lagi melihat manusia.









