Opini  

Kepunahan Panrita Lopi di Tanah Bulukumba, Saat Kearifan Maritim Bugis-Makassar Bergeser ke Era Modern

Opini: Atho Bachtiar Bakrie

Avatar photo
Foto Atho Bachtiar Bakrie, Pemerhati Budaya, Founder LBH BaPaKa, dan Managing Partner MUBARAK and FRIDA Law Firm.. (ist)*


OPINI, Bulukumba, Kliksulsel – Julukan Butta Panrita Lopi atau “Tanah Para Ahli Pembuat Perahu” telah lama melekat pada Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Daerah ini dikenal sebagai pusat pembangunan kapal kayu tradisional, termasuk pinisi yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.

Namun, di balik kejayaan industri perahu tradisional tersebut, muncul kekhawatiran mengenai semakin hilangnya sosok Panrita Lopi, yakni tokoh yang tidak hanya menguasai teknik pembuatan kapal, tetapi juga memegang pengetahuan budaya, spiritual, dan filosofi masyarakat maritim Bugis-Makassar.

Pemerhati budaya sekaligus Founder LBH BaPaKa, Atho Bachtiar Bakrie, menilai kepunahan Panrita Lopi merupakan kehilangan yang jauh lebih besar dibanding sekadar berkurangnya jumlah pembuat kapal tradisional.

“Yang hilang bukan hanya keterampilan membuat kapal, tetapi juga nilai-nilai kebijaksanaan yang selama ini menjadi fondasi budaya maritim masyarakat Bugis-Makassar,” kata Atho dalam tulisan opininya.

Panrita Lopi Lebih dari Sekadar Pembuat Pinisi

Dalam tradisi masyarakat pesisir Sulawesi Selatan, Panrita Lopi merupakan sosok yang memiliki kedudukan khusus.

Baca Juga:  Microteaching Membuka Hati: Berbicara tentang Retorika untuk Menyelamatkan Anak Putus Sekolah di Bulukumba
Mereka tidak hanya memahami teknik memilih kayu, menyusun lunas, hingga merancang struktur kapal, tetapi juga menguasai pengetahuan tentang adat, penanggalan tradisional, kondisi alam, hingga nilai-nilai spiritual yang mengiringi proses pembangunan kapal.

Setiap tahapan pembangunan kapal, mulai dari pemilihan pohon hingga peluncuran ke laut, dilakukan melalui serangkaian ritual yang dipercaya menjadi bentuk penghormatan terhadap alam sekaligus doa agar kapal membawa keselamatan bagi para pelaut.

Baca Juga:  Menutup Buku Putih Abu-Abu, Membuka Lembar Baru: Kisah Kelulusan yang Lebih dari Sekadar Perpisahan
Bagi masyarakat Bugis-Makassar, kapal bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol hubungan manusia dengan alam dan kehidupan.

Modernisasi Dinilai Mengubah Makna Pembuatan Kapal

Menurut Atho, perubahan teknologi membuat proses pembangunan kapal kini lebih menitikberatkan pada aspek efisiensi dan produktivitas.

Perhitungan konstruksi yang dahulu banyak mengandalkan pengalaman turun-temurun kini bergeser ke pendekatan teknis modern. Mesin dan teknologi mempercepat proses produksi, namun di sisi lain dinilai mengikis nilai-nilai budaya yang selama ini diwariskan oleh para Panrita.

Ia menyebut generasi pembuat kapal saat ini lebih banyak berperan sebagai teknisi dibanding pewaris pengetahuan budaya secara utuh.

Hilangnya Panrita Dianggap Mengikis Kearifan Lokal

Atho juga menilai hilangnya Panrita Lopi berpotensi mengurangi peran tokoh adat sebagai penjaga nilai moral di masyarakat pesisir.

Dalam tradisi Bugis-Makassar, seorang Panrita tidak hanya dihormati karena keahliannya membangun kapal, tetapi juga karena kebijaksanaan dalam memberikan nasihat kepada masyarakat.

Nilai-nilai seperti siri’ na pacce, penghormatan terhadap alam, serta keseimbangan antara manusia dan lingkungan menjadi bagian dari ajaran yang diwariskan para Panrita kepada generasi berikutnya.

“Di tengah perkembangan teknologi, masyarakat justru membutuhkan figur yang mampu menggabungkan pengetahuan modern dengan kearifan lokal,” tulis Atho.

Butta Panrita Lopi Menghadapi Tantangan Pelestarian Budaya

Bulukumba hingga kini masih dikenal sebagai sentra pembuatan kapal kayu tradisional. Industri tersebut menjadi salah satu identitas budaya sekaligus penopang ekonomi masyarakat pesisir.

Meski demikian, tantangan regenerasi pembuat kapal yang memahami filosofi dan nilai budaya semakin besar.

Menurut Atho, pelestarian budaya maritim tidak cukup hanya mempertahankan bentuk fisik kapal pinisi, tetapi juga menjaga pengetahuan, etika, dan filosofi yang selama ratusan tahun menyertai proses pembuatannya.

Mendorong Lahirnya “Panrita Baru”

Atho mengusulkan lahirnya generasi “Panrita Baru”, yakni individu yang mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai budaya lokal.

Menurutnya, sosok tersebut diharapkan tidak hanya menguasai teknologi dan ilmu kelautan, tetapi juga memahami etika lingkungan, sejarah maritim, serta nilai budaya Bugis-Makassar sebagai bagian dari identitas bangsa.

“Jika Panrita Lopi telah berkurang, maka semangat Panrita berupa kebijaksanaan, integritas, dan keseimbangan harus tetap diwariskan kepada generasi mendatang. Tanpa itu, Butta Panrita Lopi hanya akan menjadi nama, sementara ruh budayanya perlahan menghilang,” tutup Atho.


Opini: Atho Bachtiar Bakrie, Pemerhati Budaya, Founder LBH BaPaKa, dan Managing Partner MUBARAK and FRIDA Law Firm.

 

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *