KLIKSULSEL, BULUKUMBA — Di bawah langit pagi yang masih menyisakan embun, tugas polisi lalu lintas kerap dipahami sebatas mengurai simpul kemacetan.
Namun di sebuah sudut Jalan Samratulangi, kisah lain tumbuh—tentang kepekaan, kepedulian, dan gerak cepat yang melampaui batas rutinitas.
Tiga personel Sat Lantas Polres Bulukumba menunjukkan bahwa seragam cokelat tak hanya identik dengan peluit dan arus kendaraan, tetapi juga dengan empati yang menyala.
Mereka adalah Bripka Sulkibli, Briptu Taufiqqurahman, dan Bripda Andi Muhammad Yusril—tiga nama yang hari itu bergerak layaknya penyelidik, menelusuri jejak yang nyaris hilang.
Peristiwa bermula pada Senin (30/03/2026), ketika ketiganya tengah berjaga di Pos Lalu Lintas depan Stadion Mini Bulukumba. Tiba-tiba, tiga siswi dari MAN 2 Bulukumba datang dengan wajah cemas. Salah satu dari mereka kehilangan handphone—perangkat kecil yang kini menjadi denyut penting kehidupan pelajar.Menurut keterangan, ponsel tersebut diduga terjatuh saat perjalanan menuju sekolah menggunakan ojek. Sebuah kejadian sederhana, namun berdampak besar—terlebih bagi siswi kelas XII yang sedang bersiap menghadapi simulasi ujian.
Tanpa menunda waktu, ketiga personel langsung bergerak. Mereka melakukan interogasi awal, lalu memanfaatkan teknologi pelacakan lokasi. Dari titik yang bergerak perlahan, arah mengarah ke Kecamatan Gantarang—sebuah petunjuk yang menjadi benang merah pencarian.Langkah demi langkah, mereka mengikuti jejak digital itu. Hingga akhirnya, perjalanan berhenti di sebuah SPBU di Kelurahan Jalanjang. Di sana, di antara deru mesin dan antrean bahan bakar, harapan kembali menyala.
Personel Sat Lantas segera berkoordinasi dan mengumumkan kepada para pengendara. Suara mereka menembus hiruk-pikuk, mencari satu jawaban dari sekian banyak kemungkinan.
Dan jawaban itu datang.Seorang pengendara motor mengaku menemukan handphone tersebut di jalan. Ia berniat mengembalikannya, namun waktu menahannya sejenak di antrean BBM.
Ketika kepingan cerita disatukan, kepastian pun terwujud—ponsel itu benar milik siswi yang kehilangan.
Senyum merekah di wajah Keyla Salsabila. Bukan sekadar benda yang kembali, tetapi juga ketenangan yang pulang.
Baginya, handphone itu bukan hanya alat komunikasi, melainkan jembatan menuju masa depan—alat penting untuk menghadapi ujian.“Terima kasih kepada Bapak Kapolres Bulukumba dan jajarannya yang telah membantu menemukan handphone saya,” ucapnya penuh haru.
Di balik kisah sederhana ini, tersimpan makna yang lebih dalam. Bahwa kehadiran polisi tak melulu soal hukum dan ketertiban, tetapi juga tentang sentuhan kemanusiaan di saat yang paling dibutuhkan.
Kapolres Bulukumba, AKBP Restu Wijayanto, menyampaikan apresiasi atas respons cepat anggotanya. Baginya, tindakan itu adalah cerminan nyata wajah Polri yang hadir untuk masyarakat—bukan hanya sebagai penjaga, tetapi juga sebagai penolong.Ia pun mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati menjaga barang berharga, serta tidak ragu melapor jika mengalami kejadian serupa.
Di tengah lalu lintas yang terus bergerak, kisah ini menjadi pengingat: bahwa di balik kesibukan jalan raya, selalu ada ruang bagi kepedulian untuk tumbuh—dan bagi harapan untuk kembali ditemukan.





