KLIKsulsel_Microteaching Membuka Hati: Berbicara tentang Retorika untuk Menyelamatkan Anak Putus Sekolah di Bulukumba
Bulukumba – Di sebuah ruang belajar yang sederhana, suara Citra seorang tenaga pendidik mengalir pelan namun penuh makna.
Bukan sekadar menyampaikan materi, ia sedang membuka hati—tentang retorika, tentang pengabdian, dan tentang anak-anak yang nyaris kehilangan masa depan.
Microteaching, bagi Citra, bukan hanya metode pembelajaran. Ia adalah ruang refleksi. Sebuah cermin yang membuatnya kembali memaknai kata, kalimat, dan kekuatan suara.
“Retorika adalah teknik pembujuk rayuan secara persuasif. Ia dapat menghasilkan bujukan melalui karakter pembicara, emosional, maupun argumen,” tutur Citra dengan mata yang berbinar, Sabtu (21/02/2026).
Microteaching dan Seni Retorika yang Menggerakkan
Retorika, sebagaimana dipaparkan Citra, memiliki fondasi kuat yang tak lekang oleh waktu: etos, patos, dan logos.
Etos berbicara tentang karakter dan kredibilitas.
Patos menyentuh ranah emosional audiens.
Logos meneguhkan pesan melalui logika dan argumen.
Dalam praktik microteaching, ketiga unsur ini menjadi napas. Guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi menghadirkan keteladanan, empati, dan ketajaman berpikir sekaligus.
Citra menjelaskan, ada lima hukum retorika yang menjadi pijakan utama:
Penemuan (Inventio) – menemukan ide dan gagasan.
Penyusunan (Dispositio) – mengatur struktur pesan.
Gaya (Elocutio) – memilih diksi dan ekspresi yang tepat.
Memory (Memoria) – menguasai materi dengan kuat.
Penyampaian (Pronuntiatio) – menghadirkan pesan dengan percaya diri.
Bagi Citra, microteaching melatih semuanya. Ia belajar kembali menata kata, mengatur emosi, dan menghidupkan pesan agar tidak sekadar terdengar, tetapi dirasakan.
Dari OPS Desa ke OPS Sekolah: Dedikasi yang Tak Pernah Usai
Perjalanan Citra tak berhenti di ruang kelas. Ia pernah mengabdi sebagai OPS (Operator Pengolah Data) Desa, dan kini melanjutkan perannya sebagai OPS Sekolah.
Perubahan peran itu justru memperluas cakrawala pengabdiannya.
Sejak tahun 2021 hingga kini, tercatat 115 peserta telah mengikuti program pendataan dan pendampingan pendidikan yang ia jalankan.
Mereka berasal dari empat kecamatan di Kabupaten Bulukumba:
Bontobahari
Gantarang
Rilau Ale
Ujung Loe
Program ini bukan sekadar pendataan administratif. Ia adalah gerakan sunyi—mendata anak-anak yang putus sekolah dan membantu mereka kembali ke bangku pendidikan.
Di balik angka 115 itu, tersimpan cerita tentang harapan yang hampir padam lalu kembali menyala.
Menjemput Anak yang Hampir Hilang dari Pendidikan
Citra memahami, retorika bukan hanya soal berbicara di depan kelas. Ia juga tentang membujuk hati orang tua agar mengizinkan anaknya kembali sekolah. Tentang menguatkan mental anak-anak yang sempat merasa tertinggal.
Microteaching telah membantunya menyusun argumen yang lebih meyakinkan, menghadirkan empati yang lebih tulus, dan membangun kredibilitas di tengah masyarakat.
“Harapan saya sederhana,” ujarnya lirih, “tidak ada lagi anak yang putus sekolah.
Semua harus punya kesempatan melanjutkan pendidikan.”
Harapan itu bukan slogan. Ia adalah tekad.
Retorika sebagai Jalan Pengabdian
Di Bulukumba, microteaching telah menjadi lebih dari sekadar metode pelatihan mengajar. Ia berubah menjadi ruang pembentukan karakter dan penguatan misi sosial.
Citra membuktikan bahwa retorika bukan alat manipulasi, melainkan jembatan. Jembatan antara guru dan murid. Antara sekolah dan keluarga. Antara harapan dan masa depan.
Di tangan yang tepat, kata-kata mampu menggerakkan perubahan.
Dan di ruang kecil tempat Citra berbicara, retorika menemukan makna sejatinya: membuka hati, menyentuh nurani, dan menyelamatkan masa depan.









