Sastra  

Membaca “Sakit Tak Berdarah”, Sebuah Cerpen Karya Yulia Citra Jafar

Sastra

Avatar photo

KLIKSULSEL__Aku tidak pernah tahu kapan rasa takut itu mulai menetap di dalam tubuhku. Ia tidak datang dengan pintu dibanting atau teriakan yang mengoyak udara. Ia datang seperti embun yang jatuh perlahan, mengendap di pagi hari, dingin dan nyaris tak terasa.

Hingga suatu hari, aku menyadari: aku tumbuh bersamanya.
Sejak kecil, dunia bagiku bukan tempat bermain, melainkan ruang yang harus dibaca dengan cermat.

Aku belajar menafsirkan wajah orang dewasa, nada suara, jeda sebelum kata-kata diucapkan. Aku belajar diam sebelum disuruh, menyingkir sebelum diminta. Aku belajar bahwa terlalu banyak bicara bisa berbahaya, dan terlalu jujur bisa menyakitkan.

Saat anak-anak lain berlari tanpa menoleh ke belakang, aku sering berhenti di tengah langkah.

Dadaku berdebar tanpa sebab yang bisa kusebutkan. Ada perasaan seperti seseorang sedang mengawasiku dari kejauhan—bukan sosok, bukan bayangan—hanya firasat bahwa sesuatu yang buruk selalu punya kemungkinan untuk terjadi. Maka aku menunggu.

Aku menahan napas. Aku waspada, bahkan pada kebahagiaan.

Malam adalah ruang paling jujur bagi ketakutanku. Ketika lampu dipadamkan dan suara dunia mengecil, pikiranku justru terbangun sepenuhnya. Gelap mengajari bayangan untuk membesar. Hal-hal kecil menjelma ancaman.

Kesalahan lama datang mengetuk, rasa bersalah menyusup tanpa izin. Aku memeluk diri sendiri, mendengarkan detak jantungku yang tak mau patuh pada kata “tenang”. Aku menunggu pagi seperti seseorang menunggu pengampunan.

Namun pagi tidak pernah membawa jawaban. Ia hanya membawa cahaya.
Aku tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Luka ini tidak berdarah. Tidak bengkak.

Tidak bisa kutunjukkan dengan perban atau jahitan. Tidak ada bekas yang dapat dijadikan bukti bahwa aku sedang terluka. Maka aku memilih diam. Dan diam itu, tanpa kusadari, tumbuh menjadi bahasa sehari-hariku.

Aku dibesarkan dengan keyakinan bahwa hidup harus selalu disyukuri, betapa pun beratnya. Bahwa kuat bukan pilihan, melainkan kewajiban. Bahwa menangis terlalu lama adalah tanda kurang iman, dan mengeluh berarti lupa pada nikmat Tuhan.

Maka aku belajar merapikan segalanya di dalam diriku. Menyusun kesedihan seperti pakaian di lemari—dilipat, disimpan, dan tidak dibicarakan.

Aku tersenyum dengan baik. Aku hadir tepat waktu. Aku menjalani hidup sebagaimana mestinya. Dari luar, aku tampak utuh. Dari luar, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Padahal di dalam, ada bagian-bagian diriku yang retak halus, seperti rambut patah pada porselen tua—tak langsung pecah, tetapi tak pernah benar-benar kuat lagi.

Saat aku beranjak remaja, rasa takut itu tidak pergi. Ia hanya mengganti wajah. Ia menjadi kecemasan yang datang tiba-tiba, seperti ombak yang menyeretku ke tengah laut saat aku merasa aman di tepi. Ia menjadi pikiran yang berputar tanpa henti, mencari kesalahan dalam setiap kemungkinan. Ia menjadi rasa bersalah yang muncul bahkan ketika aku tidak melakukan apa pun yang salah.

Aku sering merasa lelah tanpa tahu sebabnya. Merasa kosong di tengah keramaian. Merasa bersalah hanya karena ingin berhenti sejenak. Dan yang paling menyakitkan: aku merasa harus menjelaskan semuanya, padahal aku sendiri tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Baru bertahun-tahun kemudian aku mengerti—atau setidaknya mulai belajar mengerti—bahwa sakit tidak selalu berdarah. Bahwa luka tidak selalu membutuhkan kecelakaan untuk ada. Ada luka yang tumbuh pelan-pelan, dari rasa takut yang tak pernah diberi nama, dari perasaan yang selalu diminta untuk ditahan.

Kini aku belum sepenuhnya sembuh. Aku masih belajar bernapas tanpa rasa bersalah. Masih belajar percaya bahwa tidak apa-apa untuk lelah, untuk takut, untuk meminta tolong. Tetapi setidaknya, aku tidak lagi menyangkal keberadaan luka itu.

Aku mulai mengakuinya.
Dan bagi seseorang yang terlalu lama hidup dalam diam, pengakuan itu sendiri sudah merupakan bentuk keberanian.

Penulis: Yulia Citra Djafar

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *