Menenun Jejak Dan Layar Upaya UKM Seni Rebba Sipatokkong Menghidupkan Jiwa Desa Bira

Avatar photo

KlikSulSel BULUKUMBA, 07 – 10 Mei 2026 Di balik deburan ombak dan megahnya tebing pesisir Desa Bira, tersimpan narasi-narasi tua yang mulai tergerus zaman. Menyadari hal tersebut, sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam UKM Seni Rebba Sipatokkong STAI Al-Gazali Bulukumba memutuskan untuk melangkah lebih jauh dari sekadar latihan rutin di kampus. Mereka turun ke lapangan, menyusuri lorong-lorong Desa Bira untuk melakukan sebuah refleksi mendalam melalui riset budaya,Langkah ini bukan sekadar tugas organisasi, melainkan sebuah ikhtiar untuk mendokumentasikan dan memuliakan kembali warisan leluhur yang masih bernapas di tengah masyarakat Bonto Bahari.

Menyelami Kedalaman Pa’lopiang dan Pattennung

Fokus riset kali ini tertuju pada dua pilar identitas Bira Pa’lopiang(tradisi yang berkaitan dengan pelayaran/perahu) dan Pattennung (tradisi menenun). Melalui observasi dan dialog hangat bersama tokoh masyarakat serta pemerintah desa, para mahasiswa berusaha membedah filosofi di balik setiap helai benang dan setiap kayuhan di laut.

Bagi mereka, Pattennung bukan hanya soal memintal kain, melainkan simbol kesabaran dan ketelitian perempuan Bira. Sementara Pa’lopiang adalah cermin ketangguhan dan visi para pelaut yang telah menaklukkan samudra. Riset ini berusaha menangkap esensi tersebut agar tidak hanya menjadi catatan bisu di buku sejarah. Dari Data Menjadi Estetika

Ketua UKM Seni Rebba Sipatokkong,Fathul Ulum menegaskan bahwa riset ini adalah fondasi dari sebuah proses kreatif yang panjang. Ia melihat bahwa seni pertunjukan adalah jembatan paling efektif untuk menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Kami tidak ingin budaya ini hanya dikenal sebagai sisa masa lalu. Lewat riset ini, kami ingin membawanya kembali ke panggung sebagai sebuah karya seni yang edukatif. Kami ingin ‘menghidupkan’ kembali nilai-nilai itu agar generasi saya dan setelah saya tetap merasa memiliki identitas Bira,” ungkap Fathul dengan penuh harap.

Hasil dari wawancara dan dokumentasi ini nantinya akan bertransformasi menjadi sebuah pementasan seni yang artistik, di mana setiap gerak dan nada akan bicara tentang jati diri manusia pesisir.Dukungan dan Harapan Masa Depan, Kehadiran para mahasiswa ini disambut dengan tangan terbuka oleh Pemerintah Desa Bira. Kepala Desa Bira melihat gerakan ini sebagai pemantik api semangat bagi pemuda setempat. Dukungan penuh pun dijanjikan agar karya yang lahir dari riset ini bisa menjadi cermin bagi masyarakat Bira untuk terus menjaga warisan leluhur mereka.

Baca Juga:  Ibu Rumah Tangga di Bulukumba Ini Buktikan Pekarangan Bisa Jadi Sumber Pangan

Refleksi Akhir

Apa yang dilakukan oleh UKM Seni Rebba Sipatokkong adalah sebuah teguran halus sekaligus inspirasi bagi kita semua. Di era modernisasi yang serba cepat, mereka memilih untuk melambat sejenak, mendengarkan petuah orang tua, dan melihat kembali ke akar.

Melalui kolaborasi antara riset ilmiah dan ekspresi seni, mahasiswa STAI Al-Gazali Bulukumba sedang membangun monumen hidup—sebuah pementasan yang nantinya tidak hanya menghibur mata, tetapi juga menguatkan jiwa dan identitas lokal Bulukumba agar tetap tegak di tengah arus zaman.

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *