KLIKsulsel__Bulukumba, Sulawesi Selatan — Di bawah langit yang perlahan meredup menuju malam, nyala api dari obor-obor kecil bergerak seperti aliran cahaya yang hidup.
Di Kabupaten Bulukumba, perbedaan penentuan Hari Raya Idulfitri tak menjelma jurang, melainkan jembatan sunyi yang menghubungkan hati-hati warganya.
Perbedaan dalam menetapkan awal Idulfitri memang kembali hadir, seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun di tanah pesisir selatan Sulawesi Selatan ini, masyarakat memilih cara yang lebih hangat untuk merayakannya—bukan dengan perdebatan, tetapi dengan langkah bersama dalam pawai obor yang sederhana namun sarat makna.
“Yang berbeda bukan untuk dipertentangkan, tapi untuk dirangkul,” ujar seorang pemuda setempat, suaranya tenggelam dalam riuh langkah kaki dan desir angin malam, Kamis (19/03).
Baginya, pawai obor bukan sekadar tradisi, melainkan cara masyarakat merawat rasa saling memiliki.
Pawai itu bermula dari Dusun Ulu Galung desa Tamaona Kecamatan Kindang Dari sana, arus manusia mengalir menuju Dusun Loka, sebelum akhirnya berhenti di Dusun Campaga.
Di sepanjang jalan, cahaya obor berkelip seperti doa-doa yang berjalan—menyala, berpindah, dan saling menguatkan.
Seorang warga yang ikut berjalan menggambarkan suasana dengan mata berbinar.
“Ini bukan hanya soal menyambut lebaran. Ini tentang bagaimana kita tetap bersama, meski berbeda hari merayakannya,” katanya.
Kalimatnya sederhana, namun terasa seperti simpul yang mengikat banyak makna.
Anak-anak berlarian kecil di sisi rombongan, sementara para orang tua berjalan tenang, seakan membawa kenangan masa lalu yang serupa. Di antara mereka, tidak ada sekat yang tampak—hanya cahaya yang saling menerangi wajah-wajah yang berbeda, namun satu tujuan.
Di tengah dinamika kehidupan umat Islam yang kerap diwarnai perbedaan, masyarakat Bulukumba justru menunjukkan wajah lain dari keberagaman. Pawai obor menjadi ruang di mana perbedaan tidak dihapus, tetapi diterima sebagai bagian dari kehidupan yang utuh.
Lebih dari sekadar seremoni, kegiatan ini adalah pesan yang hidup—bahwa persatuan tidak harus lahir dari keseragaman. Ia bisa tumbuh dari perbedaan yang dipeluk dengan lapang dada.
Seiring obor-obor yang perlahan padam di titik akhir perjalanan, semangat yang mereka bawa justru terus menyala. Di Bulukumba, cahaya itu tidak hanya menerangi jalan malam, tetapi juga menjaga harapan bahwa kebersamaan akan selalu menemukan jalannya, betapapun beragam arah yang ditempuh.






