KLIKSULSEL_Bulukumba — Di halaman SD Negeri 256 Kajang-Kajang, perubahan itu tak datang lewat spanduk besar atau slogan yang berisik. Ia tumbuh diam-diam, bermula dari gerakan kecil yang kini menjelma budaya: memungut sampah yang terlihat, lalu membuangnya pada tempatnya.
Gerakan itu bernama LISA (Lihat Sampah Ambil)—sebuah program sederhana yang justru menyentuh akar paling dasar pendidikan: pembentukan karakter.
Dulu, serpihan sampah kecil kerap luput dari perhatian. Kini, setiap kertas bekas, plastik ringan, atau daun kering yang tergeletak tak lagi sendirian. Ada tangan-tangan kecil yang sigap memungutnya, seolah berkata bahwa kebersihan adalah tanggung jawab bersama.
Pendidikan Karakter dari Halaman Sekolah
Bagi SD Negeri 256 Kajang-Kajang, menjaga kebersihan bukan sekadar rutinitas piket. Lewat LISA, sekolah menanamkan nilai disiplin, kepedulian, dan kesadaran lingkungan sejak dini. Tanpa aba-aba, tanpa jadwal resmi, para siswa dilatih untuk peka—melihat sampah, lalu bertindak.
Kepala SD Negeri 256 Kajang-Kajang, Gitarina Asmayanti M, mengungkapkan bahwa program ini lahir dari kegelisahan bersama para guru melihat lingkungan sekolah yang kerap dipenuhi sampah berserakan.
“Program LISA bermula dari keprihatinan saya dan rekan guru melihat sampah di sekitar sekolah. Dengan LISA, jumlah sampah di lingkungan sekolah kini berkurang,” ujarnya, Jumat (29/01/2026).
Namun LISA tak berhenti pada pengurangan sampah semata. Ia menjadi jalan sunyi membentuk karakter anak-anak—belajar peduli tanpa harus disuruh.
Keteladanan yang Menyentuh Hati
Keistimewaan LISA terletak pada kebersamaannya. Program ini tak hanya melibatkan siswa, tetapi juga guru, kepala sekolah, orang tua murid, hingga seluruh warga sekolah. Semua bergerak dalam kesadaran yang sama: memungut sampah adalah tanggung jawab kolektif.
Sebelum program dijalankan, pihak sekolah lebih dulu melakukan sosialisasi menyeluruh. Para guru memberi contoh langsung—dari kelas satu hingga kelas enam—bahwa keteladanan adalah bahasa paling jujur dalam pendidikan.
“Kami mencontohkan langsung kepada anak-anak. Alhamdulillah, sejauh ini hasilnya positif,” tambah Gitarina.
Perlahan, halaman sekolah pun berubah. Bukan hanya lebih bersih, tetapi juga lebih hidup oleh semangat kebersamaan.
Dari Kebiasaan Kecil Menuju Budaya Lingkungan
Melalui LISA, sekolah berharap kebiasaan sederhana ini tak berhenti di pagar sekolah. Ia diharapkan tumbuh menjadi budaya yang dibawa pulang ke rumah, lalu menyebar ke masyarakat.
“Kami ingin murid-murid menjadi generasi yang mencintai lingkungan dan terbiasa hidup bersih,” harapnya.
Ke depan, SD Negeri 256 Kajang-Kajang juga berkomitmen mengembangkan inovasi pengelolaan sampah berkelanjutan.
Sampah organik direncanakan diolah menjadi pupuk untuk tanaman sekolah, bahkan terbuka peluang agar sampah memiliki nilai ekonomi di masa mendatang.
Sampah sebagai Pelajaran Hidup
Di tangan anak-anak Kajang-Kajang, sampah tak lagi dipandang sebagai sisa yang tak berguna.
Ia berubah menjadi pelajaran hidup—tentang tanggung jawab, kepedulian, dan harapan akan masa depan lingkungan yang lebih bersih.
Dari halaman sekolah kecil di Bulukumba, LISA membuktikan bahwa perubahan besar selalu bermula dari langkah paling sederhana: melihat, lalu peduli.
Penulis: Yulia Citra Djafar









