Sejumlah Masyarakat Ujung Loe Tagih Janji Anggota DPR soal Perbaikan Bendungan Hulu Sungai Balantieng

Avatar photo

KLIKSULSEL_Bulukumba – Di tengah gemericik Sungai Balantieng yang kini tak lagi ramah, harapan para petani di Kecamatan Ujung Loe perlahan berubah menjadi kegelisahan. Bendungan di hulu sungai yang telah lama rusak kini menjelma ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup petani, memicu kekhawatiran akan gagal panen yang kian dekat.

Sejumlah masyarakat bersama aparat kepolisian turun langsung ke aliran sungai sebagai langkah antisipatif. Mereka menyusuri jalur air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan, namun justru menyimpan potensi bencana bagi hamparan sawah di Desa Manjalling dan Garanta.

Kerusakan bendungan di hulu Sungai Balantieng membuat pasokan air tak lagi stabil. Saat hujan deras, air meluap tanpa kendali. Saat kemarau datang, lahan pertanian terancam kering. Dalam kondisi ini, para petani merasa dibiarkan bertaruh dengan nasib.

Kasmir, seorang petani asal Desa Manjalling, menyuarakan kegundahan yang mewakili banyak suara yang terpendam.

“Kami sebagai masyarakat Desa Manjalling dan Garanta sangat berharap pemerintah pusat bisa melihat kebutuhan kami, khususnya di hulu bendungan.

Kalau bukan pemerintah, siapa lagi yang bisa memperbaiki jalur sumber penghasilan kami,” ujar Kasmir kepada awak media, Senin (02/02/2026).

Ia menegaskan bahwa bendungan tersebut bukan sekadar bangunan beton, melainkan urat nadi kehidupan masyarakat tani.

Sawah, padi, dan hasil panen adalah satu-satunya sandaran hidup sebagian besar warga Kecamatan Ujung Loe.

Lebih jauh, Kasmir mengungkapkan kekecewaan terhadap janji yang pernah disampaikan oleh oknum anggota DPR terkait perbaikan bendungan tersebut. Janji itu, menurutnya, hingga kini tak kunjung terwujud.

“Kami pernah dijanjikan oleh anggota DPR, tapi sampai sekarang belum juga ditepati. Sekarang kami terancam gagal panen. Saya mewakili semua petani di Kecamatan Ujung Loe meminta pemerintah terkait segera menindaklanjuti ini demi kelangsungan hidup kami sebagai petani,” tutupnya.

Di tepi Sungai Balantieng, suara air terus mengalir—namun janji yang diucapkan masih tertahan di hulu. Masyarakat Ujung Loe kini tak sekadar meminta, mereka menagih. Sebab bagi mereka, perbaikan bendungan bukan urusan politik, melainkan soal bertahan hidup.

Baca Juga:  GMNI Manggarai Gelar Pembinaan Karakter CA Satu Hari di Gololusang, Perkuat Ideologi dan Solidaritas Kader

Penulis: Bayu

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *