KLIKSULSEL MANGGARAI – Pagi di Ruteng, Sabtu (21/2/2026), tak sekadar menghadirkan seremoni. Di halaman Gedung Utama Barat, gema doa dan tepuk tangan menyatu dengan harapan.
Pada peluncuran Dies Natalis ke-67, Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng menegaskan satu pesan penting: kolaborasi adalah energi perubahan, bukan slogan kosong.
Rektor Unika Ruteng, Agustinus Manfred Habur, berdiri di hadapan civitas akademika dan berkata dengan nada reflektif, “Kita tidak lagi hidup dalam ruang yang terisolasi.” Sebuah kalimat yang sederhana, tetapi sarat makna di tengah dunia yang bergerak cepat dan saling terhubung.
Pertanyaannya kemudian menggantung di udara Ruteng: bagaimana kampus menghubungkan ilmu dengan kehidupan, iman dengan kebudayaan, serta ruang akademik dengan denyut masyarakat? Jawaban yang ditawarkan Unika Ruteng tahun ini hadir dalam satu kata kunci—kolaborasi.
Tema Dies Natalis ke-67: Kolaborasi yang Menggerakkan Transformasi
Momentum Dies Natalis ke-67 Unika Ruteng mengusung tema “Kolaborasi Menggerakkan dan Transformasi Membentuk Karakter.” Tema ini tidak berhenti sebagai narasi perayaan, melainkan dirumuskan sebagai arah gerak kampus ke depan.
Dalam pidatonya, Rektor menegaskan bahwa universitas tidak boleh menjadi menara gading. Kampus harus menjadi ruang dialog yang hidup—antara ilmu dan realitas, antara iman dan kebudayaan, antara gagasan dan aksi nyata.
“Universitas harus menghadirkan dialog antara ilmu dan kehidupan, antara iman dan kebudayaan, antara kampus dan masyarakat,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa tujuan pendidikan bukan semata mencetak lulusan siap kerja. Yang lebih penting adalah membentuk pribadi yang siap melayani dan memimpin—manusia yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berkarakter.
Di sinilah kolaborasi dimaknai bukan sekadar kerja sama formal, melainkan perjumpaan yang menghasilkan dampak.
Sinergi Dunia Usaha: PT Panorama Alam Flores Rekrut Tiga Mahasiswa
Di tengah suasana perayaan, hadir kabar yang langsung menyedot perhatian.
Direktur Utama PT Panorama Alam Flores, Selvianus Sendo, A.Md., S.E., M.M., mengumumkan hasil kolaborasi kompetisi digital marketing bersama Unika Ruteng.
Tiga mahasiswa terpilih—Magdalena Nadia Natania, Josima Ayuni Gandut, dan Maria Pricilia Agat Jehadu—masing-masing menerima apresiasi dana Rp15 juta. Total Rp45 juta digelontorkan perusahaan yang baru berdiri sekitar tujuh bulan tersebut.
Namun lebih dari nominal angka, ada pintu masa depan yang dibuka: ketiganya langsung direkrut sebagai tenaga profesional di divisi digital marketing PT Panorama Alam Flores.
“Kami melihat kualitas digital marketing mahasiswa Unika sangat baik.Kami tidak hanya memberi hadiah, tetapi juga membuka ruang karier profesional,” ujar Selvianus.
Ia menekankan bahwa di era digital, pola pikir menjadi kunci utama. Kreativitas, keberanian mencoba, dan kemampuan membaca peluang menjadi modal penting generasi muda.
Perusahaan pun berkomitmen melanjutkan kompetisi tahap berikutnya mulai 1 Maret 2026, dengan pengumuman hasil pada 20 Mei 2026.
Langkah ini menjadi bukti konkret bahwa kolaborasi kampus dan dunia usaha dapat menjembatani mahasiswa dengan kebutuhan industri digital yang terus berkembang.
Dari “Coba-coba” Menjadi Profesional: Kisah Inspiratif Mahasiswa
Di balik angka dan seremoni, ada cerita sederhana yang menyentuh. Salah satu pemenang, Josima Ayuni Gandut (Ayu) dari Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian, mengaku tak pernah membayangkan hasil yang diraih.
Dalam percakapan melalui WhatsApp pukul 10.35 WITA, Ayu berkata bahwa awalnya ia hanya ingin mengembangkan kemampuan.
“Saya awalnya hanya coba-coba untuk mengembangkan kemampuan digital marketing. Beasiswa ini bukan hanya soal reward, tetapi bentuk apresiasi atas usaha dan kreativitas mahasiswa,” tuturnya.
Ia pun berbagi pesan bagi mahasiswa lain di Nusa Tenggara Timur: jangan takut mencoba. Dunia digital menawarkan ruang luas bagi siapa pun yang mau belajar dan berproses.
“Jangan malu belajar hal baru dan jangan takut gagal,” ujarnya.
Kisah Ayu menjadi metafora dari apa yang sedang dibangun Unika Ruteng: keberanian untuk melangkah, meski dimulai dari niat sederhana.
Dies Natalis yang Melampaui Seremoni
Peluncuran Dies Natalis ke-67 ini dihadiri jajaran pimpinan universitas, para dekan, pejabat struktural, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta tim dari PT Panorama Alam Flores. Lebih dari sekadar perayaan tahunan, momen ini menjadi ruang afirmasi bahwa sinergi akademik dan dunia usaha adalah kebutuhan zaman.
Di tengah perubahan cepat dan tantangan global, kampus tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi menjadi jembatan antara teori dan praktik, antara mimpi mahasiswa dan realitas dunia kerja.
Pertanyaannya kini meluas: mampukah model kolaborasi seperti yang diinisiasi Unika Ruteng menjadi inspirasi bagi kampus-kampus lain di Nusa Tenggara Timur?
Jika jawaban itu adalah ya, maka Dies Natalis ke-67 ini bukan hanya tonggak usia, melainkan awal dari gerakan yang lebih besar—gerakan membangun generasi muda yang kompeten, berkarakter, dan siap mengabdi bagi masyarakat.
Jurnalis: Safrin*









