Ketika Lalu Lintas Bertemu Gizi: Sinergi Satlantas Polres Manggarai dan SPPG Golo Dukal 2 yang Menggerakkan Perubahan

Avatar photo

KLIKSULSEL,Manggarai — Apa jadinya jika pesan keselamatan berlalu lintas tidak disampaikan di tepi jalan yang bising oleh klakson, melainkan di tengah aroma dapur yang hangat, saat makanan bergizi gratis tersaji bagi masyarakat?

Di sanalah, Jumat (20/2), sebuah pertemuan tak biasa terjadi: Satuan Lalu Lintas Polres Manggarai hadir di SPPG Golo Dukal 2, mempertemukan dua misi besar—kesehatan dan keselamatan—dalam satu ruang kebersamaan.

Bukan sekadar sosialisasi rutin, kunjungan itu terasa seperti percakapan keluarga. Di satu sisi, ada upaya menjaga tubuh melalui asupan makanan bergizi. Di sisi lain, ada ikhtiar menjaga nyawa lewat kesadaran tertib berlalu lintas.

Dua hal yang tampak berbeda, namun sejatinya bertemu pada satu muara: kesejahteraan masyarakat.

Edukasi Humanis di Balik Hangatnya Program MBG

Di tengah aktivitas Program Makan Bergizi (MBG), jajaran Satlantas Polres Manggarai menyampaikan pesan yang tak hanya normatif, tetapi juga menyentuh nilai kemanusiaan.

Aiptu Herman Patty, S.H., hadir bukan sekadar membacakan pasal demi pasal, melainkan membangun pemahaman yang membumi.

“Kita ingin mewujudkan KAMSELTIBCAR Lantas – keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran – bukan hanya sebagai slogan, tetapi sebagai budaya,” ujarnya, dengan penekanan bahwa perubahan sejati dimulai dari kesadaran individu.

Sosialisasi tersebut merujuk pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, namun dikemas dalam bahasa yang sederhana dan dialogis.

Rambu-rambu lalu lintas, pentingnya menggunakan helm berstandar SNI, hingga konsekuensi nyata pelanggaran—semuanya disampaikan dengan pendekatan edukatif, bukan menggurui.

Para staf dan relawan SPPG pun tak segan mengajukan pertanyaan. Diskusi mengalir, menghadirkan ruang belajar yang cair.

Di sinilah pesan hukum berubah menjadi refleksi bersama tentang tanggung jawab sosial.
Dari Profesi ke Peran Kemanusiaan
Momen yang paling menggetarkan justru datang dari pernyataan sederhana.

Baca Juga:  Mendesain Masa Depan Ekonomi Bulukumba: Fondasi Strategis Menuju Pusat Ekonomi Pesisir 2035

Aiptu Eman menyampaikan dukungannya terhadap program MBG bukan hanya sebagai aparat, tetapi sebagai orang tua yang peduli pada masa depan anak-anak.

Pernyataan itu menjadi jembatan emosional. Bahwa di balik seragam, ada sosok manusia yang memiliki kegelisahan dan harapan yang sama tentang keselamatan dan kesehatan generasi mendatang.

Kepala SPPG Golo Dukal 2, Rikardus Nogur, pun menyambut baik kunjungan tersebut.

Ia menegaskan bahwa kehadiran pihak eksternal bukan sekadar silaturahmi, melainkan membawa nilai-nilai perubahan. Bukan hanya membagikan ilmu, tetapi juga menguatkan kebiasaan baik yang berdampak jangka panjang.

Sinergi Kecil, Dampak Besar bagi Manggarai

Sinergi antara gizi dan lalu lintas mungkin terdengar sederhana. Namun, di Manggarai hari itu, ia menjelma menjadi simbol bahwa perubahan tidak selalu lahir dari panggung besar.

Kadang, ia tumbuh dari percakapan hangat di sela-sela aktivitas dapur.
Ketertiban berlalu lintas dan kecukupan gizi sama-sama berbicara tentang perlindungan hidup.

Satu menjaga tubuh dari dalam, yang lain menjaga keselamatan dari luar. Jika kolaborasi semacam ini direplikasi di berbagai ruang komunitas, bukan mustahil budaya tertib dan peduli akan mengakar lebih kuat.


Pada akhirnya, peristiwa di SPPG Golo Dukal 2 bukan hanya tentang sosialisasi hukum. Ia adalah kisah tentang bagaimana kepedulian melampaui sekat profesi, bagaimana aparat dan masyarakat duduk setara, dan bagaimana keselamatan serta kesehatan bisa dirawat dalam satu tarikan napas kebersamaan.

Di Manggarai, hari itu, lalu lintas dan gizi bertemu—dan dari pertemuan itulah harapan tumbuh.

Jurnalis: Safrin*

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *