
KLIKsulsel, Rejeng — Di antara desir angin yang membawa gema doa Minggu Palma, sekelompok anak muda melangkah menyusuri jalan-jalan sunyi di Dusun Lentang. Hari itu, Minggu, 29 Maret 2026, bukan sekadar penanda dimulainya Pekan Suci, melainkan juga hari ketika kepedulian menjelma menjadi tindakan nyata.
Sekitar 40 anggota Tunggal Hati Seminari (THS) dan Tunggal Hati Maria (THM) Paroki Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga Rejeng menggelar kegiatan sosial dengan mengunjungi warga di RT/RW 04/02, Desa Lentang, Kecamatan Lelak.
Mereka datang bukan dengan gemuruh, melainkan dengan kesederhanaan—membawa telur, beras, dan gula, serta satu hal yang tak kasatmata: harapan.
Makna Palma yang Menyala dalam Aksi Nyata
Minggu Palma dalam tradisi Gereja Katolik adalah simbol kemenangan dan kemuliaan, mengingatkan pada saat umat menyambut Yesus di Yerusalem dengan daun palma di tangan. Namun di Rejeng, simbol itu tidak berhenti sebagai ritual liturgi.
Maksimus Sadun, Ketua THS-THM Paroki Rejeng.“Minggu Palma adalah awal dari Pekan Suci yang memperingati sengsara hingga kebangkitan Tuhan Yesus,” ujar
Makna itu, kata dia, dihidupi melalui tindakan sederhana namun sarat arti: berbagi kepada sesama yang membutuhkan.
Di tengah keterbatasan, para anggota memilih untuk menjadi tangan-tangan kecil yang menyalakan terang bagi orang lain.
Dari Hati yang Memberi, ke Hati yang DikuatkanBantuan yang disalurkan bukan berasal dari kas organisasi, melainkan dari sumbangan pribadi para anggota. Setiap butir telur, setiap kilogram beras, adalah hasil dari keikhlasan yang dikumpulkan bersama.
“Kegiatan ini adalah bentuk konkret kepedulian kami terhadap sesama,” ungkap Mariska Caltahiwal, salah satu anggota.
Lebih dari sekadar bantuan materi, kehadiran mereka menjadi pesan yang lembut namun kuat: bahwa tidak ada yang berjalan sendiri dalam komunitas iman.
“Kita ingin menunjukkan bahwa kita selalu ada dan peduli,” tambah Maksimus.
Aksi ini juga sejalan dengan semangat Sinode Ke-4 Keuskupan Ruteng yang mengusung tema “Bersiarah Bersama dalam Pengharapan”—sebuah ajakan untuk berjalan bersama, saling menopang dalam iman dan kasih.
Haru yang Menjadi DoaDi salah satu rumah yang dikunjungi, suasana berubah menjadi haru. Maria Magdalena Lundut, penerima bantuan, tak kuasa menahan air mata.
“Terima kasih banyak atas kepedulian ini—sangat berarti bagi kami sekeluarga,” ujarnya dengan suara bergetar.
Bagi mereka, bantuan itu bukan sekadar kebutuhan jelang Paskah. Ia adalah pengingat bahwa di tengah sunyi dan perjuangan hidup, masih ada tangan-tangan yang menjangkau, masih ada hati yang peduli.
Menyalakan Cahaya Paskah Sejak Dini
Apa yang dilakukan THS-THM Paroki Rejeng menjadi potret kecil dari wajah kemanusiaan yang hangat—bahwa iman tidak hanya diucapkan dalam doa, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan.
Di Minggu Palma itu, daun-daun kemenangan tidak hanya dilambai-lambaikan. Ia hidup, berdenyut, dan menyala—dalam langkah kaki yang menyapa, dalam tangan yang memberi, dan dalam hati yang memilih untuk peduli.
Dan dari Dusun Lentang yang sederhana, cahaya Paskah seakan mulai terbit lebih awal.







