KLIKSULSEL, Lembor, Manggarai Barat – 20 Februari 2026. Di sebuah aula sederhana Paroki Sta. Famelia Wae Nakeng, Kecamatan Lembor, suara anak-anak siang itu terdengar lebih lantang dari biasanya. Bukan karena riuh bermain, melainkan karena mereka sedang belajar menyebutkan hak-hak mereka sendiri.
Sebuah ruang yang jarang ada kini dibuka: ruang untuk didengar.
Wahana Visi Indonesia (WVI) melalui Program Anak Desa (FAD) menggelar sosialisasi sekaligus pengukuhan pengurus Forum Anak Desa (FAD) sebagai wadah partisipasi anak di tingkat desa.
Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 Wita ini menjadi penegasan bahwa pembangunan tidak lagi boleh menempatkan anak hanya sebagai objek, melainkan subjek yang berani bersuara.
Acara tersebut dihadiri Camat Lembor Raimundus Majar, SP, Kepala Bidang KHPPHA Manggarai Barat Yohanes Yoseph Joni, ST, perwakilan desa se-Kecamatan Lembor, serta anak-anak yang menjadi pusat perhatian hari itu.
Anak Bukan Pelengkap, Tapi Penggerak Perubahan
Perwakilan WVI PC AP Manggarai Barat, Kristian Yansen Sahputra, S.Fil, dalam sambutannya menegaskan bahwa Forum Anak Desa bukanlah simbol formalitas administratif.
“Anak-anak bukan hanya penerus, tetapi aktor pembangunan. Forum Anak Desa adalah tanggung jawab bersama untuk membawa perubahan positif dan menjadi pelapor terhadap hal-hal yang mengancam hak anak,” ujarnya.
Kalimat itu menggema di antara bangku-bangku aula. FAD dirancang sebagai wadah partisipasi aktif anak dalam menyuarakan aspirasi, mengadvokasi hak, serta terlibat dalam perencanaan pembangunan desa yang ramah anak. Di Lembor, gagasan itu mulai menemukan bentuknya.
Polri Tegaskan Komitmen Lawan Kenakalan Remaja dan Bullying
Salah satu sesi yang paling menyentuh datang dari Kapolsek Lembor, Ipda Vinsensius Hardi Bagus, S.I.P. Dalam materi bertajuk Komitmen Polri Mengatasi Kenakalan Remaja dan Bullying, ia berbicara lugas namun penuh empati.
“Kenakalan remaja dan bullying bukan masalah yang bisa disepelekan. Setiap anak berhak hidup dalam lingkungan yang aman dan nyaman,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa pencegahan kenakalan remaja bukan hanya tugas kepolisian, melainkan tanggung jawab kolektif: keluarga, sekolah, gereja, pemerintah desa, dan komunitas. Polri, katanya, siap menjadi mitra aktif dalam edukasi, pendampingan, dan penegakan hukum yang berkeadilan terhadap kasus kekerasan pada anak.
Di akhir pemaparannya, suasana menjadi hening ketika para peserta—terutama anak-anak pengurus FAD—berdiri dan bersama-sama mengucapkan deklarasi:
“Menolak Kenakalan Remaja, Tindakan Bullying, dan Segala Bentuk Kekerasan Terhadap Anak.”
Deklarasi itu bukan sekadar rangkaian kata. Ia menjadi janji kolektif yang lahir dari kesadaran, bukan paksaan.
Edukasi Kesehatan dan Pencegahan Pernikahan Dini
Kegiatan ini juga memperkaya pemahaman peserta melalui paparan promosi kesehatan dan dampak pernikahan dini oleh Kapus Wae Nakeng, Fransiska Ratnayanti Babur, S.Farm.
Ia mengingatkan bahwa pernikahan dini bukan hanya persoalan adat atau ekonomi, tetapi menyangkut kesehatan fisik, mental, dan masa depan pendidikan anak.
Sementara itu, Kepala Bidang KHPPHA memaparkan konsep serta mekanisme kerja Forum Anak Desa, menegaskan pentingnya dukungan lintas sektor agar FAD tidak berhenti sebagai struktur, tetapi bergerak nyata.
Pukul 12.00 Wita, kegiatan memasuki momen penting: pembacaan serta penandatanganan Surat Keputusan (SK) Pengurus FAD.
Dengan penandatanganan itu, Forum Anak Desa resmi berdiri—bukan sebagai simbol, melainkan sebagai amanah.
Lembor Menuju Desa Ramah Anak
Kegiatan ini digelar berdasarkan Surat WVI Cluster Manggarai Raya Nomor 014/WVI-Cluster/EXT/II/FY26 tanggal 18 Februari 2026.
Lebih dari sekadar agenda seremonial, program ini diharapkan menjadi langkah strategis menjadikan Lembor sebagai contoh desa ramah anak di Manggarai Barat.
Di tengah tantangan era digital, kenakalan remaja, dan kasus bullying yang kerap tak terlihat, kehadiran FAD menjadi secercah harapan. Anak-anak desa yang dahulu mungkin hanya menjadi penonton kini berdiri sebagai pelaku perubahan.
Siang itu, di Aula Paroki Sta. Famelia Wae Nakeng, yang lahir bukan hanya kepengurusan baru—melainkan keberanian baru. Karena ketika anak desa diberi suara, masa depan sedang ditata dengan lebih manusiawi.
Jurnalis: Safrin*









