BBM Langka, Harga Eceran Tembus Rp13 Ribu per Botol di Batukaropa Bulukumba, Warga Mengeluh

Avatar photo

KLIKsulsel, Batukaropa — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) kembali menjadi denyut keresahan di pelosok desa. Di Desa Batukaropa Kecamatan Rilau Ale Kabupaten bulukumba, Selasa (24/03), suara warga menggema lirih namun tegas: harga melambung, sementara kebutuhan tak bisa ditunda.

Di tengah keterbatasan pasokan dari SPBU, penjualan BBM secara eceran justru menunjukkan lonjakan harga yang signifikan.

Baca Juga:  Bus Mitsubishi Terjun ke Jurang di Trans Flores, Seluruh Penumpang Selamat
Jika biasanya masyarakat bisa membeli dengan harga terjangkau, yakni Rp12 ribu kini angka itu menanjak hingga Rp13 ribu sampai Rp15 ribu per botol—bahkan ada yang lebih tinggi.

Salah satu warga Batukaropa, mengungkapkan keluhannya dengan nada getir. Ia datang dengan harapan sederhana: membeli bensin untuk kebutuhan sehari-hari di penjual eceran tak jauh dari rumahnya, Namun yang ditemui justru kenyataan yang menyesakkan.

“Saya datang beli bensin eceran pak, ternyata harganya Rp13 ribu. Saya tanya kenapa mahal, kan ada harga standarnya, katanya BBM langka di SPBU, sehingga sulit katanya mendapatkan,” ujarnya, Selasa (24/03/2026).

Baca Juga:  PSBM Didorong Jadi Ajang Investasi Nyata, Bulukumba Siapkan Proyek Konkret
lanjut ia menuturkan bahwa penjual eceran kepadanya menjelaskan bahwa dirinya sulit mendapatkan BBM di SPBU, sampai harus antre sehatian. Kelangkaan ini seperti bayang-bayang panjang yang menyelimuti aktivitas warga. Dari petani hingga pekerja harian, semuanya terdampak.

BBM bukan sekadar cairan energi—ia adalah denyut kehidupan yang menggerakkan roda ekonomi desa.
Situasi ini dinilai memprihatinkan.

Warga berharap pemerintah segera turun tangan, bukan hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai penata keseimbangan yang adil.

Baca Juga:  Microteaching Membuka Hati: Berbicara tentang Retorika untuk Menyelamatkan Anak Putus Sekolah di Bulukumba
Penertiban terhadap penjual eceran yang mematok harga di atas standar dianggap mendesak, agar tidak semakin banyak masyarakat yang dirugikan.

Di balik angka-angka harga yang melonjak, tersimpan kegelisahan yang tak kasat mata—tentang akses, keadilan, dan harapan akan hadirnya solusi. Desa Batukaropa kini menunggu, apakah negara akan mendengar denyut sunyi dari pinggiran ini.

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *